Alih-alih menerima proposal, Iran justru menuntut kompensasi atas kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan akibat serangan selama konflik berlangsung sejak akhir Februari.
Teheran juga menyiapkan dokumen tuntutan resmi yang akan disampaikan melalui jalur diplomatik kepada para mediator internasional. “Kami memiliki hak untuk menyuarakan tuntutan bangsa kami,” tegas Baghaei.
Dalam pernyataannya, Iran turut memperingatkan adanya kemungkinan “serangan rekayasa” atau false flag yang dituduhkan kepada AS dan Israel, yang disebut pernah terjadi dalam berbagai konflik sebelumnya.
Tak hanya itu, Iran juga mengkritik sikap Badan Energi Atom Internasional yang dinilai pasif terhadap serangan terhadap fasilitas nuklir damai Iran. Menurut Baghaei, sikap diam tersebut berpotensi “menormalisasi” serangan terhadap objek sipil strategis.
Penolakan ini semakin memperjelas bahwa jalur diplomasi antara kedua negara masih menemui jalan buntu. Di tengah meningkatnya ketegangan, masing-masing pihak tetap bertahan pada posisi yang satu menawarkan “damai dengan syarat”, yang lain menolak “damai dengan jebakan”.
Sementara itu, dunia kembali menyaksikan babak lain konflik geopolitik, di mana istilah gencatan senjata tak lagi selalu berarti jeda, melainkan bisa juga dimaknai sebagai strategi, tergantung dari sisi mana melihatnya.*****
Sumber: Al Jazeera, pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran (7 April 2026)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










