Salah satu poin yang paling “mengena” adalah soal subsidi energi. Prabowo memastikan bahwa bantuan akan tetap diberikan kepada mayoritas masyarakat, khususnya kelompok rentan.
Namun, ia juga memberi pesan halus atau mungkin tidak terlalu halus kepada kalangan mampu yang sudah saatnya mandiri.
“Yang kuat, yang kaya, kalau mau pakai bensin mahal, bayar harga pasar,” ujarnya.
Terjemahan bebasnya: subsidi bukan untuk semua orang, apalagi yang dompetnya tidak sedang kesulitan.
Alih-alih melihat krisis sebagai ancaman semata, Prabowo justru menganggapnya sebagai momentum untuk berbenah. Ia menekankan pentingnya efisiensi, pengurangan pemborosan, dan tentu saja janji klasik yang selalu relevan dengan pemberantasan korupsi.
“Krisis adalah peluang,” katanya, mengingatkan bahwa tekanan global bisa jadi “alarm” untuk mempercepat kemandirian energi, termasuk pengembangan sumber daya domestik dan energi terbarukan.
Pernyataan Prabowo ini mencerminkan sikap pemerintah yang mencoba berdiri di antara dua dunia: optimisme publik dan realitas global yang tidak selalu ramah.
Di satu sisi, Indonesia diyakini cukup kuat bertahan. Di sisi lain, masyarakat tetap diingatkan untuk bersiap menghadapi masa-masa “hemat energi”.
Yang jelas, dalam narasi kali ini, pemerintah ingin memastikan satu hal: kapal masih berjalan, nahkodanya percaya diri, dan penumpang diminta tetap tenang selama tidak boros bahan bakar.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










