NewsPendidikan

Bocah 9 Tahun di Bojonegoro Kupas Rudal dan Sains, Sekolah Masih Sibuk Mengejar Kurikulum

bhegins
×

Bocah 9 Tahun di Bojonegoro Kupas Rudal dan Sains, Sekolah Masih Sibuk Mengejar Kurikulum

Sebarkan artikel ini
Gemini Generated Image vfz3idvfz3idvfz3
Foto Istimewa

Sebagai seorang pekerja reparasi jok mobil, Andik mengambil langkah mandiri dengan membawa Daffa ke psikolog untuk mengetahui kategori kecerdasannya, apakah di atas rata-rata, gifted, atau bahkan jenius.

“Untuk hasil psikolog belum keluar,” ujarnya.

tempat.co

Langkah ini diambil agar pola pendidikan dan pengasuhan Daffa bisa disesuaikan, mengingat ia dinilai sudah tidak lagi sejalan dengan ritme pembelajaran anak seusianya.

Menurut orang tuanya, Daffa memiliki minat kuat pada tontonan edukatif, terutama yang berkaitan dengan teknologi, sains, dan fenomena alam.

Preferensi ini membuatnya tampak “berbeda” dibandingkan anak-anak lain yang umumnya lebih tertarik pada hiburan.

Satirenya sederhana, ketika layar gawai sering dituduh merusak anak, di tangan Daffa justru menjadi jendela ilmu.

Kisah Daffa membuka pertanyaan klasik dalam dunia pendidikan, apakah sistem mampu mengakomodasi anak dengan kemampuan di atas rata-rata?

Di satu sisi, bakat seperti ini menjadi aset berharga.
Di sisi lain, tanpa pendekatan yang tepat, potensi tersebut bisa terhambat oleh sistem yang seragam.

Orang tuanya pun berharap ada jalan bagi Daffa untuk mengembangkan bakat dan minatnya secara optimal.

“Semoga ke depan ada jalan,” pungkas Andik.

Fenomena Daffa menjadi pengingat bahwa kecerdasan tidak selalu mengikuti kurikulum. Kadang, justru kurikulum yang harus mengejar kecerdasan.

Dan di situlah ironi muncul ketika anak sudah siap melompat jauh, sistem pendidikan masih sibuk memastikan semua berjalan dengan langkah yang sama.*****

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow