Jika ditambah dengan implementasi program 100 GW, efisiensi energi disebut akan meningkat signifikan.
Dalam bahasa kebijakan: boros dikurangi, impor ditekan, energi domestik dimaksimalkan.
Target berhenti impor BBM dalam 2-3 tahun tentu terdengar seperti lompatan besar. Di satu sisi, ini mencerminkan keberanian pemerintah mengambil arah strategis. Di sisi lain, publik mungkin bertanya: seberapa cepat transformasi sebesar ini bisa benar-benar terjadi?
Apalagi, transisi energi bukan hanya soal menutup pembangkit lama, tetapi juga memastikan pengganti yang andal benar-benar siap.
Namun satu hal yang jelas: pemerintah ingin mengubah narasi lama dari negara pengimpor energi menjadi negara yang berdiri di atas “kaki energinya sendiri”.
Dan seperti biasa, waktu akan menjadi penguji paling jujur, apakah ini akan menjadi tonggak sejarah, atau sekadar target ambisius yang butuh revisi di tengah jalan.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










