LOCUSONLINE, BANDUNG — Di tangan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, sekolah tak lagi sekadar tempat belajar. Ia kini berubah menjadi miniatur kedisiplinan ala barak militer lengkap dengan bangun pagi, larangan plesiran, dan jam malam. Kamis, 24 Juli 2025
Tentu, semua demi “masa depan anak-anak Jabar.” Atau setidaknya begitu bunyi surat edaran dan unggahan Instagram beliau.
Kebijakan pertama: masuk sekolah jam 06.30 pagi. Bukan sekadar datang awal, tapi dimulai belajar pukul 06.30. Bayangkan, anak-anak yang bahkan belum sempat melihat matahari, sudah harus siap menyambut guru dan soal matematika dengan mata setengah tertutup. Siapa tahu, nilai UN bisa meningkat karena rasa kantuk lebih besar dari stres.
Gubernur Dedi bahkan sempat berseloroh, “Enggak apa-apa jam 6 pagi belajar, asal Sabtu libur.” Tentu saja, semua orang tahu: libur Sabtu tidak akan menggantikan sarapan yang terlewat dan macet pagi yang jadi-jadian.
Bekasi pun angkat tangan. Walikota Tri Adhianto menolak halus sambil membawa data kemacetan, anak-anak belum sarapan, dan keluhan orang tua. Mungkin karena ia sadar: bukan semua anak tinggal di vila atau rumah dekat sekolah dengan supir pribadi.
Kebijakan Kedua: Study Tour Dilarang, Ekonomi Lesu Biarkan
Lanjut ke larangan study tour. Sebuah pukulan telak untuk para siswa yang ingin mengenal dunia di luar ruang kelas, dan juga tamparan ekonomi bagi sektor wisata.
Tentu, Gubernur punya alasan mulia: agar orang tua tak terbebani biaya jalan-jalan. Solusi khas birokrasi melarang, bukan mengatur. Mencegah, bukan memperbaiki mekanismenya.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”