LOCUSONLINE, GARUT – Pemerintah Kabupaten Garut tiba-tiba tancap gas. Bukan karena jembatan di Garut mendadak hilang, tapi karena Mendagri Tito Karnavian mengingatkan bahwa jembatan di Aceh jebol, dan semua daerah diminta waspada. Seolah baru teringat bahwa jembatan adalah bagian dari peradaban, Bupati Garut Abdusy Syakur Amin langsung menginstruksikan camat dan kepala desa se-kabupaten untuk melakukan percepatan pendataan, Jumat (28/11/2025).
Instruksi itu disampaikan secara virtual dari Command Center Diskominfo Garut tempat yang makin sering dipakai untuk mengumandangkan tugas-tugas mendadak yang “mendadak penting”.
Syakur tidak bertele-tele. Kira-kira begini intinya “Jembatan di Aceh jebol. Kita jangan nunggu jebol dulu baru ribut.”
Kepanikan terukur ala birokrasi pun dimulai. Pemerintah Pusat meminta semua daerah menginventarisasi jembatan yang rawan, rusak, atau sudah lama diminta warga tapi tak kunjung dibangun. Targetnya cepat: data harus tiba di meja Jakarta tanggal 3 Desember. Artinya, aparatur Garut punya waktu kurang dari seminggu untuk “mendata semua jembatan yang kelihatan maupun yang hampir tak kelihatan”.
Baca Juga : 113 Tahun Berlari, Semangat Muhammadiyah Menggema dari Cibiuk untuk Maju Bersama Bangsa
Syakur menyoroti tiga fungsi vital jembatan:
- Pendidikan – Anak sekolah tidak mungkin menyeberang sungai menggunakan tekad.
- Kesehatan – Pasien butuh akses, bukan harapan.
- Ekonomi – Aktivitas masyarakat sulit bergerak kalau jembatannya ikut-ikutan rebahan.
Namun, seperti biasa, instruksi cepat tidak selalu berarti pekerjaan cepat. Garut kini berpacu dengan waktu. Formulir pendataan akan segera dikirimkan ke camat dan kepala desa, lengkap dengan permintaan dokumentasi: lokasi, foto, panjang, jenis, nama sungai, hingga mungkin siapa yang terakhir kali melewatinya.
Di tengah semua kehebohan inventarisasi, aroma krisis klasik kembali tercium infrastruktur dianggap penting ketika sudah rusak di tempat lain. Kali ini Garut berharap tidak jadi episode berikutnya dalam serial “Jembatan Indonesia Ambruk Lagi”.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










