LOCUSONLINE, GARUT – Kritik jalan rusak di Garut mendadak naik level dari urusan infrastruktur menjadi drama intimidasi. Bukan karena lubangnya makin dalam, melainkan karena suara warga dianggap terlalu berisik untuk ukuran desa yang konon sudah “baik-baik saja”.
Sebuah video berdurasi 47 detik viral di media sosial, memperlihatkan seorang pemuda dikerubungi sejumlah pria dan wanita, dimaki, dan nyaris menjadi sasaran kekerasan fisik. Diduga kuat, para pelaku merupakan keluarga dari seorang kepala desa yang merasa terusik oleh kritik warganya sendiri.
“Mau tenar kamu? Mau ngejago?” bentak seorang pria berbaju bergambar One Piece dalam bahasa Sunda, seolah kritik jalan rusak adalah audisi mencari popularitas, bukan keluhan warga.
Pemuda berkemeja dalam video itu hanya tertunduk. Setiap kali mencoba menjelaskan, suaranya dipotong oleh emosi kolektif yang tampaknya lebih licin dari aspal desa setempat.
Pemuda tersebut diketahui bernama Holis Muhlisin (31), warga Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Ia membenarkan bahwa sosok dalam video viral itu adalah dirinya. “Iya benar, itu saya,” ujar Holis saat dikonfirmasi, Minggu (4/1/2026).
Menurut Holis, peristiwa intimidasi terjadi pada 27 Oktober 2025. Video itu baru diunggah ke Facebook pribadinya pada akhir Desember 2025, setelah ia menimbang berbagai risiko. Kritiknya sederhana dan klasik: jalan desa rusak parah, pernah longsor, dan dibiarkan tanpa perbaikan berarti.
“Bukan mau tenar. Saya cuma pengin desa saya bener,” kata Holis, kalimat yang di banyak tempat disebut partisipasi warga, tapi di sini nyaris dianggap provokasi.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”













