[Locusonline.co] JAKARTA – Gelombang aksi teror dan intimidasi terhadap aktivis serta influencer yang menyuarakan kritik, khususnya terkait penanganan bencana di Sumatera akhir 2025, mendapat sorotan tajam dari mantan Menko Polhukam, Mahfud MD. Dalam podcast resminya, Rabu (7/1/2026), Mahfud menegaskan tanggung jawab negara untuk melindungi kebebasan berpendapat warganya dan mengutuk segala bentuk teror yang terjadi.
Aksi-aksi teror yang viral itu beragam, mulai dari serangan digital, pengiriman bangkai hewan, vandalisme, hingga pelemparan bom molotov, yang diduga merupakan respons atas kritik terhadap kinerja pemerintah.
Dalam siaran YouTube Mahfud MD Official, Guru Besar Hukum Tata Negara itu menekankan prinsip dasar negara hukum. “Kita pasti setuju, negara ini harus aman, dan harus ada ketertiban bagi orang-orang yang mengutarakan pendapat,” tegas Mahfud.
Ia dengan jelas menyatakan bahwa negara tidak boleh absen atau membiarkan intimidasi terjadi, baik yang dilakukan secara terang-terangan maupun diam-diam. “Ini tak boleh terjadi lagi, bicara sedikit di medsos diteror,” sindirnya keras.
Mahfud juga memperingatkan konsekuensi jika aksi teror dibiarkan. “Jika satu hal ini Anda biarkan, Anda suatu saat akan mengalami hal yang sama,” tandasnya, mengingatkan bahwa iklim ketakutan bisa menimpa siapa saja.
Kronologi Rentetan Teror: Dari Ancaman Digital hingga Bom Molotov
Sebelum pernyataan Mahfud, sejumlah kasus teror telah mencuat ke publik:
- Teror Bangkai Ayam untuk Aktivis Greenpeace (30 Desember 2025):
Manajer Kampanye Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, menemukan bangkai ayam beserta ancaman tertulis di teras rumahnya. Pesannya mengancam, “Jagalah ucapanmu apabila anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu.” Aksi ini diduga terkait kritiknya terhadap kebijakan lingkungan dan penanganan bencana. - Vandalisme & Ancaman ke Influencer Aceh (30 Desember 2025):
Kreator konten asal Aceh, Sherly Annavita (@sherlyannavita), mengunggah bukti eskalasi teror yang diterimanya. Setelah mendapat ancaman digital berhari-hari, teror meningkat menjadi aksi vandalisme. “Malam tadi teror jadi semakin jelas ditunjukkan,” tulis Sherly yang juga aktif menyoroti penanganan bencana Sumatera. - Pelemparan Bom Molotov ke Rumah DJ Donny (31 Desember 2025):
Insiden paling berbahaya menimpa influencer Ramond Donny Adam (DJ Donny). Dua orang tak dikenal melemparkan bom molotov ke rumahnya, yang mengenai kap mobil. “Untung saja Allah masih baik sama saya. Apinya mati duluan,” kata Donny yang telah melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya karena membahayakan nyawa keluarga dan warga.
Pola dan Motif Diduga Terkait Kritik Penanganan Bencana
Berdasarkan penelusuran, teror yang terjadi pada penghujung 2025 ini diduga kuat berkaitan dengan gelombang kritik dari publik figur terhadap respons pemerintah dalam menangani bencana alam besar di Sumatera pada November 2025. Sejumlah influencer dengan pengikut besar dinilai menyuarakan ketidakpuasan atas perceived kelambanan dan ketidakefisienan penanganan.
Aksi teror ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang iklim kebebasan berpendapat di Indonesia dan keselamatan para pengkritik. Metodenya yang bervariasi menunjukkan pola intimidasi terstruktur yang ditujukan untuk menimbulkan efek jera dan ketakutan psikologis.
Pernyataan Mahfud MD merepresentasikan seruan lebih luas agar aparat penegak hukum bergerak cepat. “Jangan biarkan ini terus berlangsung dan tidak terungkap. Tidak ada penjelasan sama sekali, kan tidak boleh,” tambahnya.
Kasus-kasus ini menjadi ujian bagi komitmen negara dalam melindungi kebebasan berekspresi warganya dari ancaman kekerasan. Masyarakat sipil dan para ahli hukum mendorong investigasi yang transparan dan serius untuk mengungkap dalang di balik aksi teror sistematis ini, serta memastikan mekanisme perlindungan yang efektif bagi para aktivis, jurnalis, dan influencer yang berada di garis depan penyampaian kritik sosial. (**)













