“Di Garut, TBC bukan tiba-tiba menyerbu. Penyakit lama itu hanya akhirnya ketahuan satu per satu setelah lama bersembunyi dari radar.”
LOCUSONLINE, GARUT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut mencatat Tuberkulosis (TBC) masih betah bercokol sebagai “juara bertahan” penyakit dengan jumlah kasus terbanyak sepanjang 2025. Total temuan mencapai sekitar 9.000 pasien, naik dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 8.000 kasus.
Angka itu memang tampak melonjak. Namun, otoritas kesehatan menegaskan, kenaikan tersebut bukan sinyal bahwa TBC makin merajalela tanpa kendali, melainkan hasil dari razia kesehatan yang kini jauh lebih rajin menyisir warga.
Baca Juga : Dari Ruang Kuliah ke Tiang Internet: Etika Birokrasi Diajarkan, Pengawasan Diuji di Lapangan
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani, menyebut lonjakan tersebut justru menandakan sistem pelacakan berjalan lebih agresif.
“Kasus TBC memang masih tinggi, sekitar 9.000 pasien di 2025. Tapi ini karena kami aktif mencari, bukan karena tiba-tiba penyakitnya mendadak rajin menyerang,” ujar Leli, Jumat (23/1/2026).
Menurutnya, strategi jemput bola sengaja diperkuat agar penderita yang sebelumnya luput dari pantauan bisa segera terdeteksi. Dengan begitu, pengobatan dapat dimulai lebih cepat, risiko komplikasi ditekan, dan mata rantai penularan tidak terus berputar dari satu rumah ke rumah lain.
Dinkes Garut juga mengingatkan publik agar tidak kaget jika grafik kasus TBC dalam beberapa tahun ke depan masih terlihat “menanjak”. Fenomena tersebut, kata Leli, adalah bagian dari proses pembersihan data kasus lama yang akhirnya muncul ke permukaan akibat deteksi dini yang masif.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









