Bandung, 8 Februari 2026 – Di tengah gelombang disruptif media digital, pemerintah justru menempatkan radio sebagai medium strategis yang tidak hanya bertahan, tetapi menjadi pilar penting bagi komunikasi publik dan ekonomi kreatif. Hal ini ditegaskan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar Li, dan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam acara Kik-Off Radio Ekraf di Cihampelas Walk, Bandung, Sabtu (8/2).
Radio Sebagai “Strategic Asset”: Dari Proklamasi hingga Tanggap Darurat
Irene Umar Li membingkai peran radio jauh melampaui fungsi hiburan. Ia menyebut radio sebagai bagian dari ketahanan nasional, merujuk pada peran historisnya dalam mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan 1945.
“Radio bukan hanya entertainment. Ia bagian dari ketahanan nasional… dalam kondisi darurat ketika listrik dan internet bermasalah, radio tetap menjadi alat komunikasi yang paling andal,” tegas Irene.
Pernyataan ini mendedahkan perspektif pemerintah yang melihat radio sebagai “infrastruktur komunikasi kritis” (critical communication infrastructure) yang memiliki daya tahan (resilience) tinggi. Dengan jangkauan luas dan kebutuhan daya rendah, radio terbukti efektif dalam situasi bencana, krisis, atau kerusuhan ketika jaringan komunikasi lain lumpuh.
Radio Sebagai Penangkal Hoaks dan Perekat Sosial
Wali Kota Farhan memberikan contoh konkret dari pernyataan teoritis tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah kota dan aparat keamanan secara aktif memanfaatkan radio sebagai alat komunikasi publik selama kerusuhan yang melanda Bandung beberapa waktu lalu.
“Pada waktu kejadian besar di bulan Agustus lalu… kami menggunakan Radio sebagai alat komunikasi dan sebagai salah satu platform untuk menenangkan masyarakat agar tidak terprovokasi,” tutur Farhan.
Pengalaman ini menunjukkan fungsi radio sebagai “penangkal hoaks” (disinformation antidote) dan stabilisator sosial di tengah krisis. Kemampuannya menyampaikan informasi resmi secara langsung, luas, dan real-time menjadikannya senjata ampuh melawan narasi yang memecah belah dan informasi yang salah.
Bandung Sebagai “Launchpad” Talenta dan Ekosistem Kreatif
Acara ini digelar di Bandung bukan tanpa alasan. Baik Wamenekraf maupun Wali Kota menegaskan bahwa kota ini memiliki ekosistem radio dan kreatif yang unik dan historis.
“Bandung adalah contoh kota dengan sejarah panjang radio dan komunitas kreatif. Dari sinilah tumbuh komunitas-komunitas kreatif sejak era 1970-an,” ujar Farhan. Irene menambahkan, “Banyak figur nasional memulai perjalanan kariernya dari dunia penyiaran.”
Radio di Bandung dipandang sebagai “launchpad” atau batu loncatan bagi talenta kreatif—mulai dari penyiar, produser, penulis naskah, hingga ahli teknologi siaran—yang kemudian berkontribusi pada industri kreatif nasional yang lebih luas.
Masa Depan Radio: Konvergensi Tanpa Kehilangan Jiwa
Kedua pemimpin sepakat bahwa masa depan radio terletak pada transformasi cerdas, bukan resistensi buta terhadap digitalisasi. Kunci utamanya adalah konvergensi.
Farhan menjelaskan, “Radio perlu melakukan konvergensi dengan platform digital tanpa kehilangan karakteristik utamanya sebagai media yang tangguh dan memiliki daya tahan tinggi.”
Ini berarti radio harus memeluk teknologi baru—seperti streaming, podcast, dan media sosial—untuk memperluas jangkauan dan interaksi dengan pendengar muda. Namun, intinya harus tetap pada kekuatan utamanya: lokalitas, keandalan teknis, kecepatan siaran langsung, dan kemampuan membangun komunitas yang solid.
Peta Jalan Radio di Era Digital
Pernyataan pejabat tinggi ini memberikan peta jalan yang jelas bagi masa depan radio di Indonesia:Aspek Strategi & Peran Fungsi Strategis Diposisikan sebagai infrastruktur komunikasi kritis untuk ketahanan nasional dan penanganan krisis. Konten & Komunitas Tetap berakar pada lokalitas sebagai “radio komunitas”, sekaligus menjadi inkubator talenta kreatif. Teknologi Melakukan konvergensi dengan platform digital (podcast, streaming, sosial media) untuk memperluas jangkauan. Regulasi & Dukungan Perlu dukungan kebijakan dari pemerintah (seperti program Radio Ekraf) untuk modernisasi dan peningkatan kapasitas. Nilai Inti yang Dipertahankan Daya tahan (resilience), keandalan, kecepatan siaran langsung, dan kemampuan membangun kepercayaan.
Dengan demikian, narasi bahwa radio adalah “media usang” secara resmi dipatahkan oleh pemerintah sendiri. Sebaliknya, radio justru ditempatkan sebagai “senjata komunikasi strategis” yang memiliki keunggulan komparatif tak tergantikan di era digital yang rentan gangguan. Dukungan pemerintah melalui program seperti Radio Ekraf menandakan komitmen untuk tidak hanya mempertahankan, tetapi memperkuat dan memodernisasi ekosistem penyiaran radio sebagai aset bangsa yang berharga. (**)













