Bandung

Bandung Bangun Sistem Mitigasi dari Bawah Lewat Siskamling Siaga Bencana

rakyatdemokrasi
×

Bandung Bangun Sistem Mitigasi dari Bawah Lewat Siskamling Siaga Bencana

Sebarkan artikel ini
Bandung Bangun Sistem Mitigasi dari Bawah Lewat Siskamling Siaga Bencana locusonline featured image Feb
ucapan selamat Hari Jadi Garut ke 213

[Locusonline.co] BANDUNG – Pemerintah Kota Bandung mempertegas arah pembangunan berbasis ketangguhan masyarakat dengan mentransformasi program Warga Jaga Warga menjadi “Siskamling Siaga Bencana” . Ini adalah langkah strategis yang menempatkan warga sebagai garda terdepan dalam pencegahan risiko lingkungan, sekaligus menjadi salah satu manifestasi nyata capaian satu tahun Bandung Utama (Unggul, Terbuka, Amanah, Maju, Agamis) . Program ini membuktikan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi fisik, tetapi juga memperkuat kesiapan sosial menghadapi ancaman bencana.

Transformasi ini lahir dari evaluasi lapangan setelah rangkaian kunjungan pemerintah ke 30 kecamatan sepanjang Agustus 2025. Dari situ terlihat jelas bahwa persoalan keamanan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari kesiapsiagaan menghadapi banjir, longsor, kebakaran, hingga persoalan sanitasi yang berpotensi menjadi krisis kesehatan masyarakat.

tempat.co

Dari Ronda Tradisional Menuju Deteksi Dini Berbasis Komunitas

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa pendekatan baru ini dirancang untuk menggeser pola penanganan dari reaktif menjadi preventif. Targetnya sederhana namun ambisius: risiko dikenali dan ditangani sebelum berkembang menjadi bencana.

“Saya akan keliling ke 151 kelurahan untuk memastikan kesiapan masyarakat menghadapi musim hujan. Kita lakukan pencegahan sebisa mungkin sebelum bencana terjadi,” ujarnya pada September 2025 lalu.

Menurut Farhan, Siskamling Siaga Bencana bukan sekadar ronda keamanan tradisional yang hanya aktif pada malam hari. Sistem ini bekerja sebagai mekanisme deteksi dini berbasis komunitas yang aktif sepanjang hari. Pada pagi hari, warga bersama aparat memeriksa kondisi lingkungan seperti drainase, infrastruktur, dan potensi kerusakan fasilitas publik. Pada malam hari, fungsi pengawasan keamanan tetap berjalan guna menjaga stabilitas lingkungan.

“Kalau menunggu yang formal-formal, banyak hal tidak terurus. Maka kami bikin terobosan dengan melibatkan semua warga,” kata Farhan.

Cakupan Luas, Pemetaan Risiko Lebih Tajam

Hingga Februari 2026, program ini telah menjangkau 82 dari 151 kelurahan di Kota Bandung. Cakupan ini menjadi fondasi pemetaan risiko yang lebih tajam dan terukur, karena setiap wilayah memiliki karakter ancaman yang berbeda. Beberapa kawasan menghadapi risiko banjir akibat sedimentasi dan penyempitan drainase. Wilayah lain rawan longsor karena kondisi kontur tanah. Di kawasan padat penduduk, risiko kebakaran dan penyebaran penyakit menjadi perhatian utama.

Pendekatan berbasis data ini memungkinkan intervensi yang lebih tepat sasaran. Bukan kebijakan seragam, melainkan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

Menyisir Persoalan dari Hulu ke Hilir

Lebih jauh, pemetaan tidak berhenti pada potensi bencana. Pemerintah juga menginventarisasi persoalan sosial dan lingkungan yang memperbesar kerentanan warga, antara lain:

AspekFokus Pendataan
Sanitasi & DrainaseKualitas saluran air, titik rawan genangan
Bangunan LiarBangunan yang menghambat aliran air
PermukimanRumah tidak layak huni, kepadatan penduduk
Kesehatan MasyarakatRisiko penyakit seperti TBC dan DBD
Data SosialTingkat kemiskinan, kepesertaan jaminan kesehatan
Infrastruktur DasarPenerangan jalan, akses air bersih

Pendekatan ini menjadikan Siskamling Siaga Bencana sebagai instrumen terpadu yang menghubungkan mitigasi bencana dengan kebijakan sosial, kesehatan, dan infrastruktur. Tidak ada lagi sekat-sekat sektoral; semua masalah dilihat dalam satu kesatuan yang saling terkait.

Mekanisme Tindak Lanjut Cepat: Memotong Birokrasi Panjang

Keunggulan utama program ini terletak pada mekanisme tindak lanjut cepat. Dalam setiap kunjungan, wali kota didampingi anggota DPRD serta perangkat dinas teknis agar keluhan warga dapat langsung ditangani. Permasalahan ringan seperti saluran air tersumbat atau lampu jalan mati diselesaikan hari itu juga. Isu yang memerlukan proses administratif segera dijadwalkan untuk eksekusi berikutnya.

Model kerja ini memotong rantai birokrasi panjang dan mempercepat pelayanan publik. Pemerintah mendorong budaya respons cepat, kolaboratif, dan berbasis data lapangan —sebuah pendekatan yang memperlihatkan pergeseran cara kerja pemerintahan kota.

Paradigma Baru: Warga sebagai Mitra Aktif

Siskamling Siaga Bencana menandai perubahan paradigma pembangunan perkotaan: warga bukan lagi sekadar penerima layanan, melainkan mitra aktif dalam menjaga keselamatan lingkungan. Ketika masyarakat memahami risiko di wilayahnya, memiliki mekanisme pelaporan, dan mendapat respons cepat dari pemerintah, maka ketangguhan kota terbentuk dari bawah.

Dalam kerangka satu tahun Bandung Utama, program ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari proyek fisik, tetapi juga dari kemampuan kota membangun budaya kesiapsiagaan kolektif. Ketahanan sosial yang kuat menjadi fondasi agar setiap ancaman dapat dihadapi dengan kesiapan, koordinasi, dan solidaritas warga.

Kesimpulan: Gerakan Bersama Menuju Kota Tangguh

Siskamling Siaga Bencana pada akhirnya bukan hanya program, melainkan gerakan bersama memastikan Kota Bandung tumbuh sebagai kota yang lebih tangguh, adaptif, dan siap menghadapi risiko masa depan. Dengan cakupan yang terus meluas, data yang semakin tajam, dan respons cepat yang menjadi budaya, Bandung membuktikan bahwa ketangguhan sejati lahir dari kesiapan warganya.

Satu tahun Bandung Utama, satu langkah besar menuju kota yang aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow