Bandung

Dugaan Perilaku Tidak Pantas di Sekolah, Keluarga Pindahkan Anak Demi Perlindungan

rakyatdemokrasi
×

Dugaan Perilaku Tidak Pantas di Sekolah, Keluarga Pindahkan Anak Demi Perlindungan

Sebarkan artikel ini
Dugaan Perilaku Tidak Pantas di Sekolah, Keluarga Pindahkan Anak Demi Perlindungan locusonline featured image Feb
ucapan selamat Hari Jadi Garut ke 213

Pengakuan Mengejutkan: Keluarga Ungkap Kegalauan di Balik Dugaan Pelecehan Sesama Jenis pada Siswa

[Locusonline.co] BANDUNG – Sebuah kasus dugaan penyimpangan perilaku yang mengarah pada pelecehan seksual sesama jenis terhadap seorang siswa kini mencuat dan menyita perhatian publik. Bukan hanya karena peristiwa itu sendiri, tetapi juga karena dilema yang dialami oleh keluarga korban dalam menempuh jalur hukum.

Pihak keluarga, yang diwakili oleh Pak Undang, membuka suara mengenai kekhawatiran mendalam terhadap tindakan terduga pelaku. Dalam sebuah wawancara yang diunggah di kanal YouTube, ia mengungkapkan bahwa informasi awal justru datang dari pihak sekolah yang melihat adanya pola interaksi yang tidak lazim antara pelaku dan korban.

tempat.co

“Ada perilaku kayak istilah seorang laki-laki menyayangi perempuan, sering mengelus-elus tangannya. Kita sudah ngeri masalahnya ini kan laki-laki sama laki-laki,” ujar Pak Undang dengan nada cemas.

Informasi tersebut memicu keresahan, terutama karena pelaku disebut kerap menunjukkan gestur kasih sayang yang berlebihan dan menyerupai pola relasi romantis heteroseksual. Kondisi ini membuat pihak keluarga berada dalam posisi yang sangat sulit.

Jebakan “Serba Salah”: Antara Keresahan dan Minimnya Bukti Fisik

Meski desas-desus mengenai kedekatan kedua remaja ini telah menyebar di kalangan rekan dan saudara—termasuk kabar bahwa pelaku sering menjemput korban untuk menginap di kawasan Ciduga atau madrasah—keluarga mengaku tak kuasa untuk langsung bergerak secara hukum.

Pasalnya, hingga saat ini belum ada pengakuan langsung dari korban maupun alat bukti fisik yang kuat untuk mengonfirmasi dugaan adanya pelecehan seksual secara eksplisit. Tanpa bukti permulaan yang cukup, proses hukum menjadi jalan buntu.

“Ini yang membuat kami serba salah,” keluhnya. Informasi sudah beredar, keresahan sudah memuncak, namun pintu pelaporan resmi terasa begitu sempit tanpa dukungan bukti formal.

Langkah Dramatis: Pindah Sekolah Demi Masa Depan

Di tengah ketidakpastian hukum, keselamatan dan kesehatan mental korban menjadi prioritas utama. Untuk memutus rantai interaksi dengan terduga pelaku dan menghindari potensi perundungan (bullying) serta dampak psikologis jangka panjang, keluarga mengambil keputusan besar.

Sang anak dipindahkan dari lingkungan sekolahnya dan kini melanjutkan pendidikan di Kota Bandung.

“Jadi muncul kekhawatiran, ya sudah sekolahnya di Bandung saja untuk menghindar. Kalau misalkan tidak ada perundungan atau perilaku itu, mungkin korban bakal sekolah di sini,” jelas Pak Undang.

Langkah ini diambil murni sebagai bentuk perlindungan atas masa depan dan mental anak. Lingkungan lama dirasa sudah tidak lagi aman bagi perkembangan psikologis korban.

Pelajaran Penting: Kekerasan Tak Selalu Meninggalkan Luka Fisik

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa kekerasan atau pelecehan tidak selalu berwujud luka fisik atau bukti yang kasat mata. Terkadang, ia hadir dalam bentuk kecemasan psikologis yang membuat keluarga merasa tak berdaya.

Bagi masyarakat, kasus ini juga menyoroti pentingnya peran lingkungan—baik sekolah maupun teman sebaya—untuk berani bersuara jika melihat kejanggalan dalam interaksi sosial anak-anak. Karena diamnya korban atau ketiadaan bukti fisik tidak selalu berarti tidak adanya bahaya yang mengintai.

Hingga berita ini diturunkan, pihak yang diduga sebagai pelaku belum memberikan keterangan resmi. Sementara itu, keluarga korban memilih fokus pada pemulihan mental anak dan memulai lembaran baru di lingkungan yang lebih aman. (**_

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow