Bandung

Target Ambisius Bandung Atasi Sampah, Kejar Pengolahan 500 Ton per Hari

rakyatdemokrasi
×

Target Ambisius Bandung Atasi Sampah, Kejar Pengolahan 500 Ton per Hari

Sebarkan artikel ini
Target Ambisius Bandung Atasi Sampah, Kejar Pengolahan 500 Ton per Hari locusonline featured image Feb 2026 a
ucapan selamat Hari Jadi Garut ke 213

Produksi sampah 1.500 ton per hari, TPA Sari Mukti batasi kiriman. Pemkot Bandung berlomba waktu kelola 500 ton di dalam kota dengan teknologi hingga program “Gaslah”.

[Locusonline.co] BANDUNG – Persoalan sampah menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapi Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung di tahun 2026. Dengan pembatasan kiriman sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sari Mukti yang kini hanya diperbolehkan 981 ton per hari, Kota Bandung dipaksa berbenah. Sisa timbulan sampah harus diolah mandiri di dalam kota.

tempat.co

Total produksi sampah warga Bandung mencapai sekitar 1.500 ton setiap hari. Artinya, terdapat sekitar 500 ton sampah yang harus diselesaikan di tingkat kota. Jika tidak ditangani serius, gunungan sampah akan menggunung di berbagai sudut kota.

Saat ini, kapasitas pengolahan sampah di Bandung baru mencapai 300 ton per hari. Masih ada selisih sekitar 200 ton yang berpotensi menumpuk apabila tidak segera ditangani secara sistematis dan menyeluruh.

Wali Kota: Tidak Bisa Selesaikan dengan Satu Pendekatan

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan tunggal. Keragaman jenis sampah – terutama sampah organik seperti sisa makanan dan sisa masakan yang mendominasi – menuntut penerapan berbagai teknologi adaptif.

“Tidak mungkin hanya satu teknologi menyelesaikan seluruh persoalan sampah. Karena itu, kami memanfaatkan beragam pendekatan, terutama untuk sampah organik yang volumenya sangat besar,” ujar Farhan.

Strategi Besar Bandung Atasi Sampah

Pemkot Bandung menyiapkan setidaknya lima strategi utama untuk mengejar target pengolahan 500 ton sampah per hari:

1. Penguatan Kelembagaan dan Regulasi

Langkah pertama yang ditempuh adalah memastikan fondasi hukum kokoh. Mulai dari payung hukum undang-undang hingga peraturan wali kota, seluruh perangkat kebijakan telah disiapkan sebagai dasar pengelolaan sampah terpadu. Regulasi yang jelas menjadi syarat mutlak agar eksekusi di lapangan berjalan efektif.

2. Pembenahan Infrastruktur Dasar

Pemkot membenahi infrastruktur penunjang seperti optimalisasi Tempat Penampungan Sementara (TPS), armada pengangkut, akses jalan menuju lokasi pengolahan, hingga penguatan sumber daya manusia pengelola sampah. Tanpa infrastruktur memadai, strategi apapun akan sulit dijalankan.

3. Penguatan Pengelolaan Berbasis Masyarakat

Salah satu model keberhasilan terlihat di TPS 3R4 Rakomala yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Fasilitas dibangun pemerintah, sementara operasional dan pengelolaan sehari-hari dilakukan oleh warga setempat.

Model ini terbukti efektif karena mendorong rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Namun tantangannya, baru sekitar 30 persen atau sekitar 500 RW di Kota Bandung yang memiliki sistem pengolahan sampah mandiri. Dari jumlah tersebut, total pengolahan masih kurang dari 40 ton per hari – jauh dari kebutuhan 500 ton yang harus diselesaikan di dalam kota.

4. Program “Gaslah”: Petugas Pemilah di Tiap RW

Untuk mempercepat pengelolaan di tingkat akar rumput, Pemkot Bandung meluncurkan program inovatif “Gaslah” (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah).

Program ini menempatkan satu petugas di setiap RW yang bertugas:

  • Mengedukasi warga tentang pentingnya memilah sampah
  • Mendatangi rumah-rumah warga secara langsung
  • Memastikan pemilahan sampah dilakukan dari sumbernya

Ke depan, program ini direncanakan diperkuat hingga level RT guna menjangkau lebih banyak rumah tangga.

5. Integrasi dengan Ekonomi Sirkular

Pemkot juga melanjutkan program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan), mengembangkan kawasan bebas sampah, serta mengintegrasikan pengolahan sampah dengan urban farming melalui program Buruan Sae dan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat).

Konsep ini membentuk rantai ekonomi sirkular yang ideal:

  • Sampah organik diolah menjadi kompos
  • Kompos dimanfaatkan untuk urban farming
  • Hasil panen mendukung dapur sehat
  • Sisa dapur kembali diolah di fasilitas pengelolaan sampah berbasis masyarakat

“Ini strategi utama kami tahun ini. Sampah harus selesai dari hulunya,” kata Farhan.

Inovasi Teknologi: Bioaktivator Percepat Pengomposan

Inovasi teknologi juga mulai diterapkan, salah satunya penggunaan bioaktivator di TPS 3R4 Rakomala. Bioaktivator merupakan cairan hasil fermentasi mikroorganisme pengurai yang mampu mempercepat dekomposisi sampah organik menjadi kompos.

Manfaat bioaktivator:

  • Mempercepat proses pengomposan secara signifikan
  • Mengurangi bau tidak sedap di sekitar TPS
  • Menekan populasi lalat yang kerap mengganggu

“Kalau ada bau, langsung disemprot dan baunya hilang. Lalat pun berkurang. Ini masih tahap percobaan, mudah-mudahan ke depan hasilnya lebih baik,” jelas Farhan.

Keunggulan bioaktivator ini adalah kemudahannya untuk diproduksi secara mandiri oleh warga tanpa proses manufaktur rumit. Dengan demikian, masyarakat didorong belajar mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan.

Target Akhir Semester: 500 Ton Tertangani

Pemkot Bandung menargetkan seluruh 500 ton sampah yang harus dikelola di dalam kota dapat tertangani sepenuhnya paling lambat akhir semester pertama tahun 2026.

Meski penegakan hukum tetap akan diterapkan – terutama terhadap pelaku pembuangan sampah lintas wilayah dan pengelola kawasan yang tidak menerapkan zero waste management – pendekatan utama tetap berbasis partisipasi warga.

“Karena sampah yang ada di Kota Bandung berasal dari kita sendiri, maka kita yang harus bertanggung jawab,” tegas Farhan.

Data dan Fakta Pengelolaan Sampah Bandung

IndikatorAngkaKeterangan
Produksi sampah harian1.500 tonTotal timbulan sampah warga Bandung
Kapasitas TPA Sari Mukti981 ton/hariPembatasan dari pemerintah
Sampah harus diolah di kota500 ton/hariSelisih produksi dengan kapasitas TPA
Kapasitas pengolahan saat ini300 ton/hariMasih kurang 200 ton
RW dengan sistem pengolahan mandiri500 RWSekitar 30% dari total RW
Kontribusi pengolahan RW<40 ton/hariJauh dari target 500 ton
Program unggulanGaslah, Kang Pisman, Buruan Sae, DashatIntegrasi ekonomi sirkular
Inovasi teknologiBioaktivatorPercepat pengomposan, kurangi bau

Target pengolahan 500 ton sampah per hari bukan sekadar angka. Ini adalah misi penyelamatan kota dari krisis sampah. Dengan kombinasi regulasi, infrastruktur, inovasi teknologi, dan yang terpenting partisipasi aktif warga, Bandung optimistis dapat mewujudkan pengelolaan sampah mandiri yang berkelanjutan. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow