Bandung

HijabFest 2026 Angkat Potensi Modest Fashion sebagai Kekuatan Ekonomi Kota Bandung

rakyatdemokrasi
×

HijabFest 2026 Angkat Potensi Modest Fashion sebagai Kekuatan Ekonomi Kota Bandung

Sebarkan artikel ini
HijabFest 2026 Angkat Potensi Modest Fashion sebagai Kekuatan Ekonomi Kota Bandung locusonline featured image Mar

[Locusonline.co] BANDUNG – Di atas catwalk, para model melenggok dengan balutan busana muslim modern. Di luar panggung, hiruk-pikuk pengunjung memadati stan-stan pameran. HijabFest 2026 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) menjadi saksi bisu bahwa modest fashion bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi yang nyata di Kota Bandung.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang hadir dalam konferensi pers HijabFest, Sabtu (7/3/2026), menegaskan bahwa pemerintah kota berkomitmen mendorong sektor ini sebagai salah satu pilar utama perekonomian daerah. Pasalnya, ekosistem industri fesyen muslim di Bandung telah terbangun rapi, dari hulu hingga hilir.

tempat.co

“Untuk Kota Bandung, memang ada dua bentuk fashion yang ingin kita dorong. Pertama adalah modest fashion atau yang kita kenal dengan baju muslim dan muslimah. Kreativitas dan skala produksi Kota Bandung untuk modest fashion ini dari yang paling niche sampai yang paling massal semuanya ada di Kota Bandung, ” ujar Farhan.

Ekosistem Lengkap, Tapi Ada yang Mengganjal

Bandung memiliki segalanya: desainer kreatif, konveksi skala kecil hingga besar, dan pasar yang kuat. Namun, di balik gemerlapnya industri ini, ada satu fakta yang mengkhawatirkan.

Farhan menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor manufaktur di Kota Bandung hanya sekitar 0,01 persen.

“Artinya pabrik di Kota Bandung tidak berkurang, tetapi juga tidak bertambah,” kata Farhan.

Padahal, keberadaan produsen bahan tekstil lokal sangat penting untuk menopang perkembangan industri modest fashion. Tanpa bahan baku yang memadai dan inovatif, industri ini akan terus bergantung pada impor.

Bahan Baku: Antara Impor dan Inovasi Tropis

Farhan mengakui bahwa dari sisi bisnis, impor bahan baku bukanlah masalah besar. Yang terpenting, kata dia, adalah nilai tambah tetap berada di Bandung.

“Secara bisnis buat Kota Bandung, bahannya impor tidak masalah. Yang penting konveksinya di Kota Bandung, desainnya di Bandung, brand-nya dari Bandung, kantor pusatnya di Bandung, dan NPWP-nya beralamat di Kota Bandung, ” ujarnya.

Namun, ia juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi bahan tekstil yang nyaman digunakan di iklim tropis. Inovasi di sektor hulu ini menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Perang Dagang Sudah Masuk Pasar Lokal

Tak hanya soal bahan baku, Farhan juga menyoroti ancaman dari produk jadi impor yang masuk dengan harga lebih murah. Menurutnya, persaingan perdagangan global kini tidak hanya terjadi di tingkat ekspor-impor, tetapi sudah merambah hingga ke pasar-pasar lokal.

Untuk menghadapi ini, ia menawarkan dua senjata utama: sertifikasi halal dan sistem pembayaran digital nasional (QRIS).

“Dua hal ini, sertifikasi halal dan QRIS, menjadi instrumen untuk memastikan ketahanan ekonomi Kota Bandung tidak kemudian diambil oleh pesaing dari luar,” kata Farhan.

Jabar: Pasar Raksasa Industri Halal

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menambahkan bahwa provinsi ini memiliki potensi luar biasa dalam pengembangan ekonomi syariah dan industri halal. Dengan jumlah penduduk sekitar 50,7 juta jiwa dan mayoritas beragama Islam, Jawa Barat adalah pasar sekaligus basis produksi yang sangat kuat.

“Kolaborasi antara pemerintah, perbankan, pelaku usaha, UMKM, dan akademisi sangat diperlukan untuk meningkatkan perekonomian syariah dan industri halal di Jawa Barat,” ujar Erwan.

Potensi modest fashion di Bandung ibarat raksasa yang sedang terbangun. Ekosistemnya lengkap, pasarannya luas, dan dukungan pemerintah pun ada. Namun, tantangan di sektor hulu (bahan baku dan manufaktur) serta ancaman produk impor harus dihadapi dengan strategi yang jitu.

Sertifikasi halal, digitalisasi pembayaran, dan inovasi bahan baku lokal menjadi kunci. Jika semua elemen bersinergi, bukan tidak mungkin Bandung akan menjadi kiblat modest fashion dunia, bukan hanya secara budaya, tetapi juga secara ekonomi. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow