LOCUSONLINE, GARUT – Di saat dunia masih sibuk menghitung barel minyak dan memantau grafik harga energi, Selat Hormuz justru berubah menjadi panggung adu kekuatan rudal. Dalam lebih dari sepekan sejak konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran meletus pada 28 Februari, sedikitnya sekitar 10 kapal dilaporkan diserang di atau sekitar jalur laut paling sensitif di planet ini perairan yang kini terasa seperti lorong berbahaya bagi kapal yang sekadar ingin lewat.
Blokade yang dilakukan Teheran terhadap Selat Hormuz membuat jalur vital perdagangan global itu berubah fungsi dari arteri ekonomi dunia menjadi wilayah penuh peringatan darurat. Sejumlah kelompok analisis maritim mencatat serangkaian serangan tersebut nyaris melumpuhkan aktivitas pelayaran di jalur yang selama ini menjadi nadi pengiriman minyak dan komoditas internasional.
Lembaga keamanan maritim Inggris, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), bahkan telah mengeluarkan sekitar sepuluh peringatan terkait serangan maupun aktivitas mencurigakan di kawasan tersebut. Ironisnya, di tengah derasnya peringatan bahaya, informasi detail mengenai kapal yang terlibat justru lebih sering disampaikan secara samar seolah laut sedang menyimpan rahasia yang tak semua pihak berani membuka.
Serangan Beruntun dalam Hitungan Hari
Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) mencatat setidaknya sembilan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz hanya dalam kurun waktu satu minggu. Dari rentetan insiden itu, empat serangan dilaporkan menewaskan total tujuh orang—angka yang mungkin tampak kecil bagi statistik perang, namun cukup untuk mengingatkan bahwa jalur perdagangan kini juga menjadi jalur risiko nyawa.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









