LOCUSONLINE, GARUT – Di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang identik dengan kemacetan dan klakson tak berkesudahan, moda transportasi kereta api justru tampil bak “pahlawan tanpa drama”. Buktinya, jumlah penumpang dari Stasiun Garut melonjak signifikan selama periode Angkutan Lebaran 2026.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daop 2 Bandung mencatat lonjakan ini sebagai sinyal sederhana namun tegas: masyarakat mulai lelah bernegosiasi dengan kemacetan, dan memilih rel yang setidaknya menjanjikan kepastian waktu.
Pada hari biasa, rata-rata penumpang harian di stasiun ini berada di angka 1.337 orang. Namun saat musim Lebaran yang selalu datang bersama eksodus nasional dimana angka tersebut melonjak hingga 48 persen menjadi sekitar 1.976 penumpang per hari. Dari jumlah itu, 704 merupakan pengguna kereta jarak jauh, sementara 1.272 lainnya adalah penumpang kereta lokal.
Lonjakan ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan perubahan perilaku. Jika dulu perjalanan darat identik dengan “uji kesabaran”, kini kereta api mulai dipandang sebagai jalan keluar yang lebih rasional, nyaman, aman, dan yang paling penting: relatif tepat waktu.
Manager Humas Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menyebut peningkatan ini sebagai bukti kepercayaan publik yang terus tumbuh terhadap layanan kereta api.
“Kereta api kini menjadi pilihan utama masyarakat karena dinilai lebih nyaman, aman, dan tepat waktu,” ujarnya, sebuah pernyataan yang secara tidak langsung menyindir moda lain yang masih akrab dengan ketidakpastian.
Sebagai salah satu simpul penting di jalur selatan Jawa Barat, Stasiun Garut kini memainkan peran strategis dalam mobilitas masyarakat, khususnya saat momen krusial seperti Lebaran. Dengan layanan kereta jarak jauh dan lokal yang tersedia, penumpang memiliki lebih banyak opsi untuk mengatur perjalanan tanpa harus bertaruh dengan kemacetan di jalan raya.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










