EkonomiNasionalNews

Minyak Naik, Tensi Darah Ikut Naik: Ketika Dunia Panas, Indonesia Ikut Terpanggang

bhegins
×

Minyak Naik, Tensi Darah Ikut Naik: Ketika Dunia Panas, Indonesia Ikut Terpanggang

Sebarkan artikel ini
Xjwf7yxjwf7yxjwf
Gambar Ilustrasi AI

LOCUSONLINE, JAKARTA – Harga minyak dunia kembali menembus angka psikologis US$115 per barel. Sebuah angka yang di pasar global terdengar seperti statistik, tapi di dapur rumah tangga bisa berubah jadi cerita panjang tentang penghematan.

Lonjakan ini bukan datang tanpa sebab. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang merambat hingga jalur vital seperti Selat Hormuz dan Laut Merah membuat distribusi energi global tersendat. Ketika jalur tersumbat, harga pun melonjak. Logika pasar bekerja, sementara dompet rakyat diuji.

tempat.co

Bagi Indonesia, yang masih setia menjadi importir energi, kondisi ini ibarat dihantam dari dua arah: pasokan terganggu, harga melonjak.

Melansir berita CNN Indonesia. Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai situasi ini memperlebar tekanan terhadap ekonomi nasional.

“Indonesia itu net importer, kebutuhan impornya besar. Ketika harga tembus di atas US$100, otomatis beban pembayaran makin berat,” ujarnya.

Data menunjukkan Indonesia mengimpor sekitar 1,2 juta barel minyak per hari. Dengan harga yang terus merangkak naik, defisit energi bukan lagi ancaman melainkan kenyataan yang sedang berjalan.

Dampaknya mulai terasa di nilai tukar. Rupiah dilaporkan melemah hingga menembus Rp17 ribu per dolar AS, memperparah biaya impor yang sudah mahal.

Efek berikutnya lebih halus tapi mematikan, imported inflation. Harga energi naik, biaya produksi ikut naik, dan pada akhirnya harga barang ikut merangkak. Rantai ini berjalan tanpa banyak suara tapi terasa di setiap transaksi harian.

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow