LOCUSonline, JAKARTA – Dunia perfilman kembali “menghantui” publik, kali ini bukan hanya dengan sosok gaib, tetapi juga dengan realitas yang lebih dekat pada budaya flexing dan jebakan utang digital. Film Aku Harus Mati produksi Rollink Action hadir membawa paket lengkap horor, kritik sosial, dan sindiran halus bagi generasi yang lebih takut ketinggalan tren daripada kehilangan akal sehat.
Alih-alih sekadar menampilkan hantu yang muncul tiba-tiba, film ini justru menyoroti fenomena pamer kemewahan di media sosial yang dalam banyak kasus, ternyata dibangun di atas fondasi utang dan tekanan sosial.
Ambisi Sosial yang Berujung Teror Nyata
Cerita berpusat pada Mala, diperankan Hana Saraswati, seorang yatim piatu yang berjuang keras terlihat sukses di tengah kerasnya kehidupan kota. Namun seperti banyak kisah urban masa kini, “terlihat sukses” lebih penting daripada benar-benar sukses.
Demi validasi sosial, Mala terjebak dalam gaya hidup hedon yang kemudian menyeretnya ke lubang pinjaman online dan paylater. Ketika realitas tak lagi bisa ditutup dengan filter Instagram, ia memilih pulang ke panti asuhan, berharap menemukan ketenangan.
Namun, alih-alih damai, yang datang justru “tagihan versi lain”.
Di sana, ia bertemu kembali dengan sahabat lamanya Tiwi (Amara Sophie) dan Nugra (Prasetya Agni), serta sosok Ki Jago (Bambang Paningron). Tapi kepulangan ini membuka rahasia lama: perjanjian gelap keluarga yang menuntut tumbal demi kesuksesan.
Jika biasanya utang dibayar dengan cicilan, di film ini dibayar dengan nyawa.
Horor yang Menyentil, Bukan Sekadar Menakut-nakuti
Disutradarai oleh Hestu Saputra, film ini dengan cerdas memindahkan konsep lama “pesugihan” ke konteks modern. Bedanya, kini tidak perlu ke gunung atau gua cukup buka aplikasi pinjol.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”











