LOCUSONLINE, JAKARTA - Azab Pengoplos BBM, Bos Pertamina Didoakan Netizen Depan Ka'bah? Publik tengah dihebohkan dengan kasus korupsi pengoplos BBM pertalife menjadi pertamak yang menyeret sejumlah petinggi PT Pertamina. Para petinggi pertamina tersebut bekerjasama dengan pihak swasta yang memanipulasi bahan bakar minyak jenis Pertalife (RON 90) tetapi dilaporkan sebagai RON 92 (Pertamax).
Seiring dengan disorotnya kasus ini, cuplikan video sebuah sinetron atau FTV lawas yang menceritakan tentang azab pengoplos BBM di salah satu stasiun TV swasta kembali viral. Cuplikan tersebut menampilkan hukuman mengerikan bagi pelaku pengoplos BBM.
Cuplikan sinetron tersebut viral di media sosial, salah satunya diunggah oleh akun Instagram @lambe_turah. Sinetron tersebut mengisahkan tentang sepasang suami istri yang nekat menjual bensin oplosan kepada warga di sekitar rumahnya agar mendapat keuntungan lebih besar.
Baca juga :
Liga Korupsi Indonesia PT.Timah Pimpin Klasemen Bikin Netizen Geleng-geleng Kepala
Para pengendara yang menggunakan BBM oplosan mengalami kendala karena mesin kendaraan mereka menjadi tidak nyaman saat digunakan. Penjual bensin oplosan itu ketahuan oleh polisi. Namun, mereka memilih kabur dan bersembunyi untuk menghindari hukuman.
Pada akhirnya, suami istri tersebut berakhir meninggal secara tragis. Mereka meninggal tenggelam di dalam drum minyak ketika sedang mengoplos BBM, tersambar petir, keranda terbakar hingga liang lahat mengeluarkan bensin dan bau menyengat.
Tak berhenti sampai disitu, kuburan pelaku juga tiba-tiba terbakar saat jasadnya dikebumikan. Warga yang mengantarkan jenazah ketakutan dan berlarian untuk menyelamatkan diri.
Sontak, cuplikasi sinetron tersebut langsung mengundang beragam komentar dari netizen yang sama mendo’akan para pengoplos BBM di Pertamina. Bagi sebagian netizen, cerita dalam sinetron tersebut kini bukan lagi sekedar kisah fiktif.
Baca juga :
Warga Purwakarta Harap Dedi Mulyadi Realisasikan Jalan Khusus Batu Bara untuk Kurangi Gangguan Lalu Lintas
Tak sedikit netizen menyebut jika FTV tersebut menyindir kasus yang belakangan ini sedang ramai diperbincangkan masyarakat. Netizen juga menilai bahwa sinetron azab sejatinya adalah kritik sosial yang sering luput dari perhatian masyarakat.
“Ternyata film azab adalah The Simpson versi Indonesia,” tulis akun @fah***.
“Lagi nyindir siapa sih ini?,” tulis akun @gag***.
“Mungkin pihak produser ingin menyampaikan keluh kesah tentang kasus ini sebelumnya tapi gak bisa secara langsung. Jadilah ini bahannya,” tulis akun @fun***.
“Sepertinya penulis naskahnya udah curiga sama kasus ini, cuma beraninya nyindir lewat sinetron aja, tapi gak ada yg percaya waktu itu,” tulis akun @ern***.
“Bisa jadi film azab ini ada clue dari sekitar kita terutama kasus di Indonesia,” tulis akun @dia***.
“Koruptor gak akan takut akan azab. Mereka takutnya gak punya uang,” tulis akun @ant***.
“Semoga benar matinya nanti azab. Di hisab mulai dari nol ya,” tulis akun @zya***.
Baca juga :
Masyarakat Bisa Gugat Pertamina Jika Terbukti Beli Pertamax Tapi Dapat Pertalite yang Dioplos
Bos Pertamina Didoakan Netizen Depan Ka'bah
Bahkan salah satu netizen mengunggah diunggah di akun TikTok @anggiarf dan telah ditonton lebih dari 15 juta views. Pria yang sedang menjalankan ibadah umrah itu menegaskan bahwa dirinya tidak menyumpahi tetapi mendoakan.
Di depan Kabah, dia meluapkan emosi dan mendoakan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan yang diduga terlibat dalam praktik pengoplosan BBM.
“Gue doain, gue mah enggak nyumpahin. Gue mau doain buat Direktur Utamanya Pertamina yang bikin oplos pertamax pakai pertalite,” ujar pria tersebut yang mengenakan pakaian ihram itu.
Dia berdoa agar pelaku pengoplosan mendapat hukuman yang setimpal akibat perbuatannya.
“Gua doain depan Ka’bah. Ya Allah semoga dia sama keluarganya tujuh keturunan rezekinya Engkau ambil. Engkau miskinin semiskin-miskinnya orang miskin yang pernah ada di Indonesia ya Allah. Cabut rezekinya, cabut kesehatannya, cabut semuanya yang dia punya ya Allah, cabut kebahagiaannya ya Allah,” ucap oria tersebut dengan emosi. (Tim Locus/Red.01)