Teten juga menyebut semua daerah di Jawa Barat sudah punya rencana kontinjensi. Tahu titik aman, tahu yang harus dilakukan. Cuma satu yang belum pasti: apakah warga bakal ingat semua itu di tengah kepanikan massal.
Gunung Guntur dipilih bukan karena sedang mengancam, tapi karena letaknya strategis—dekat permukiman. Dalam dunia mitigasi, kedekatan dengan bahaya dianggap peluang pelatihan. Teten mengingatkan bahwa Gunung Guntur adalah satu dari tujuh gunung aktif di Jawa Barat yang perlu “diwaspadai dengan tenang”.
Masyarakat pun diminta jangan panik. “Selamatkan diri dulu, jangan mikirin konten dulu,” pesannya, dengan harapan warga lebih dulu mencari titik evakuasi ketimbang membuka TikTok saat sirene dibunyikan.
Tak lengkap rasanya jika tak ada penghargaan. BPBD Kabupaten Garut kebagian piagam dari BPBD Provinsi karena berhasil menurunkan indeks risiko bencana dari tinggi ke sedang—sebuah capaian simbolik yang mudah dicetak, meski kesiapsiagaan riilnya tetap diuji saat bencana betulan datang tanpa gladi.
Sementara Gunung Guntur masih adem, warganya dipersiapkan untuk neraka kecil di lapangan terbuka. Meski lava belum mengalir, yang penting skenario sudah mengalir lancar. Di Indonesia, kesiapsiagaan bencana kadang lebih teatrikal dari bencananya sendiri. Tapi hei, kalau bencana datang, setidaknya kita sudah punya piagam. (Suradi/Bhegin)

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”