Ketidakadilan di lapangan kadang lebih “ringan timbangannya” dari bantuan itu sendiri.
Beras dan Minyak Kita: Paket Resmi, Isi Harapan Tidak Resmi
Pimpinan Bulog Ciamis, Johan Wahyudi, menjelaskan bahwa setiap penerima akan mendapat 20 kg beras dan 4 liter Minyak Kita, skema bagus, angka jelas yang tidak jelas: apakah sampai ke warga dengan jumlah yang sama, atau menyusut di jalan seperti sinyal internet di pedalaman.
Di Garut, bantuan kadang seperti kasur pengantin: kelihatan tebal dari jauh, pas dekat tipis.
Kesenjangan Sosial: Yang Naik Kelas Harga, Bukan Hidup
Garut lagi-lagi menunjukkan tradisi lama:
– pejabat bicara kemandirian dari kursi empuk,
– warga bicara bertahan hidup sambil menggenggam kupon bantuan.
Bupati meminta warga tak berharap bantuan terus-terusan, padahal warga ingin menjawab.
“Tenang Pak, bukan bantuan yang kami minta selamanya yang selamanya itu pekerjaan layak, harga wajar, dan kebijakan yang merata. Ada?”
Namun suara rakyat biasanya kalah keras dibanding suara pendingin ruangan kantor.
Bantuan memang dibagikan dua bulan sekaligus, tapi kesenjangan dibagikan setiap hari.
Warga menunggu solusi nyata, bukan nasihat seperti motivator yang sedang tampil di sekolah dasar.
Bupati ingin rakyat mandiri, Rakyat ingin pejabat sadar, bantuan sementara itu wajar tapi hidup susah yang berkepanjangan itu tidak.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










