Internasional

“Perang Melawan Narkoba” atau Sandiwara untuk Ganti Rezim? Panggung Sandiwara Venezuela AS

rakyatdemokrasi
×

“Perang Melawan Narkoba” atau Sandiwara untuk Ganti Rezim? Panggung Sandiwara Venezuela AS

Sebarkan artikel ini
Perang Melawan Narkoba atau Sandiwara untuk Ganti Rezim. Panggung Sandiwara Venezuela AS locusonline featured image

Oleh: Redaksi | 26 November 2025

Langkah Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela semakin tidak terbendung. Dari pembunuhan di laut lepas, pembangunan kekuatan militer masif, hingga mengarang organisasi teroris fiktif. Di balik retorika “perang melawan narkoba”, panggung untuk operasi penggantian rezim sedang dipasang. Namun, untuk apa sebenarnya semua ini?

tempat.co

Dalih di Atas Panggung: Kartel yang Tak Pernah Ada

[locusonline.co] Pada suatu Senin, pemerintah AS secara resmi mendeklarasikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan sekutunya sebagai anggota organisasi teroris asing bernama “Cartel de los Soles”. Pengklasifikasian ini berpotensi menjadi casus belli atau alasan untuk melakukan intervensi militer.

Namun, ada masalah mendasar dengan dalih ini: kelompok tersebut tidak benar-benar ada. “Tidak ada yang namanya kartel itu,” ujar Phil Gunson, analis senior International Crisis Group di Caracas. Istilah “Cartel of the Suns” adalah istilah jurnalistik yang muncul lebih dari 30 tahun lalu untuk menyindir oknum korup di angkatan bersenjata Venezuela yang menerima uang dari pedagang narkoba. Ini sama halnya dengan Donald Trump mengklasifikasikan “negara dalam” atau deep state sebagai geng kriminal.

Dengan mendeklarasikan kartel fiktif ini sebagai organisasi teroris, pesan yang dikirim ke Maduro pun jelas: “Anda sekarang dianggap teroris, dan karenanya, Anda mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan Osama bin Laden”. Ini adalah ancaman sekaligus pembenaran untuk sebuah operasi penggantian rezim.

“Anda sekarang dianggap teroris, dan karenanya, Anda mungkin akan mengalami nasib yang sama dengan Osama bin Laden”

Eskalasi Militer: Dari Laut Hingga ke Udara

Ancaman itu tidak hanya berupa kata-kata. Pengerahan kekuatan militer AS di kawasan Karibia telah mencapai level yang belum pernah terjadi sejak Krisis Rudal Kuba.

  • Kehadiran Kapal Induk: USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar di Angkatan Laut AS, telah tiba dengan armadanya di perairan regional.
  • Serangan di Laut: Militer AS telah melakukan setidaknya 21 serangan terhadap kapal-kapal yang diduga mengangkut narkoba di Karibia dan Pasifik, yang menurut laporan menewaskan sedikitnya 83 orang. Serangan-serangan ini dikritik banyak pihak sebagai pembunuhan di luar pengadilan yang melanggar hukum internasional dan domestik AS.
  • Peringatan Penerbangan: Federal Aviation Administration (FAA) AS telah mengeluarkan peringatan tentang “memburuknya situasi keamanan” di wilayah udara Venezuela. Imbasnya, setidaknya enam maskapai penerbangan internasional, termasuk Iberia (Spanyol) dan TAP (Portugal), terpaksa menangguhkan seluruh penerbangannya ke Caracas. TAP secara eksplisit menyatakan bahwa pemberitahuan AS menunjukkan kondisi keselamatan di wilayah udara Venezuela “tidak terjamin”.
  • Operasi Rahasia: Reuters melaporkan bahwa AS bersiap untuk meluncurkan “fase baru operasi terkait Venezuela” dalam beberapa hari mendatang, dengan langkah pertama kemungkinan adalah operasi terselubung oleh CIA.

Narasi yang Ropeng: Venezuela dan Fentanyl Fiktif

Administrasi Trump berusaha menyematkan krisis fentanyl yang melanda AS pada Maduro. Namun, narasi ini memiliki celah besar: Venezuela bahkan tidak memproduksi opioid sintetik tersebut.

Fakta yang diungkap oleh NBC News justru menunjukkan bahwa kartel Venezuela berfokus pada ekspor kokain ke Eropa, bukan fentanyl ke AS. Ini mengisyaratkan bahwa “perang melawan narkoba” hanyalah proxy policy, sebuah kebijakan pengganti, untuk tujuan geopolitik yang lebih besar.

Sandiwara Global: Cermin Dunia Multipolar

Konflik Venezuela-AS bukan sekadar baku hantam bilateral. Ini adalah cermin dari pergeseran tatanan geopolitik global menuju dunia multipolar, di mana hegemoni Barat ditantang oleh blok-blok kekuatan baru.

  • Kepentingan Energi: Venezuela pemilik cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi. Dalam kerangka Realism Offensive, tindakan AS ini dapat dilihat sebagai dorongan alami negara besar untuk mempertahankan dominasi melalui penguasaan sumber daya.
  • Pergulatan Kekuatan Besar: Di bawah sanksi, Venezuela beralih ke poros Timur—Rusia, Tiongkok, dan Iran—untuk bertahan. Dukungan militer Rusia dan kerja sama energi dengan Tiongkok menjadikan konflik ini sebagai proxy conflict antara tatanan unipolar (AS) dan multipolar (blok BRICS+).

Kondisi Venezuela: Krisis Internal dan Tekanan Eksternal

Di tengah ancaman intervensi, Venezuela sendiri tengah dilanda krisis dalam negeri yang parah.

AspekKondisi
Ekonomi & KeuanganInflasi sangat tinggi (180% diperkirakan pada 2025); defisit anggaran; akses terbatas ke pembiayaan eksternal.
Ketergantungan pada sektor minyak; produksi jauh di bawah puncak sejarah.
Sosial & PolitikErosi modal manusia akibat emigrasi besar-besaran (lebih dari 1/4 populasi hengkang).
Ketidakpastian politik pasca pemilu 2024; oposisi terfragmentasi.

Aktor di Balik Layar: Ambisi Politik Domestik AS

Sementara retorika perang dikumandangkan, ada motif politik domestik yang bermain. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, disebut-sebut sebagai arsitek utama rencana perang Washington di Venezuela. Seorang politisi dari Florida, Rubio diduga ingin mengambil hati konstituennya—yang termasuk anggota diaspora Venezuela dan Kuba yang sangat anti-Maduro—dengan mata yang kemungkinan tertuju pada pencalonan presiden dalam tiga tahun mendatang. Potensi keberhasilan menggulingkan Maduro akan menjadi kemenangan politik besar baginya.

💎 Kesimpulan ::

Pawai menuju konflik dengan Venezuela terasa tidak masuk akal, namun semakin nyata. Dari mengarang organisasi teroris, membunuh di laut lepas, hingga mengerahkan armada terbesar, AS tampaknya sedang mempersiapkan panggung untuk sebuah intervensi besar-besaran.

Namun, pertanyaannya tetap: pretekstur untuk apa? Apakah untuk memerangi narkoba yang tidak diproduksi Venezuela, ataukah untuk mengamankan hegemoni energi di “halaman belakang”-nya, serta memuaskan ambisi politik segelintir elite? Di tengah bayang-bayang perang, satu hal yang pasti: rakyat Venezuela, yang sudah lama menderita akibat krisis ekonomi dan politik, sekali lagi akan menjadi pihak yang paling dirugikan dalam sandiwara geopolitik ini. (**)


sumber: NYT


Bergabunglah dengan Tim Jurnalis Kami!

Apakah kamu memiliki passion dalam menulis dan melaporkan berita? Inilah kesempatan emas untuk bergabung dengan situs berita terkemuka kami! Locusonline mencari wartawan berbakat yang siap untuk mengeksplorasi, melaporkan, dan menyampaikan berita terkini dengan akurat dan menarik.

Daftar

🔗 Tunggu apa lagi!

Daftar sekarang dan jadilah bagian dari tim kami!

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow