Analisis Kinerja: Antara Ambisi Ekspansi dan Realitas Penurunan Profitabilitas
[locusonline, Jakarta]– PT Bumi Resources Tbk (BUMI), emiten tambang legendaris Indonesia, sedang dalam fase transformasi ambisius. Namun, di balik gemerlap strategi diversifikasi ke tambang emas Australia, tersembunyi fakta mencengangkan: laba bersih BUMI anjlok 76% pada periode hingga September 2025.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, BUMI mencatatkan laba bersih hanya US$29.4 juta (sekitar Rp490 miliar), turun dramatis dari periode yang sama tahun sebelumnya. Ironisnya, penurunan laba ini justru terjadi di saat pendapatan perusahaan meningkat 11.9% menjadi US$1.03 miliar.
Kontradiksi Kinerja Keuangan BUMI:
- Pendapatan: ↑ 11.9% (US$1.03 miliar)
- Laba Bersih: ↓ 76% (US$29.4 juta)
- Market Cap: Rp 52.7 triliun
- Rasio Hutang: 0.16 kali (sehat)
Ekspansi Agresif ke Australia: Strategi atau Pengalihan Isu?
Di tengah tekanan profitabilitas, BUMI justru melakukan ekspansi besar-besaran dengan mengakuisisi 100% saham Wolfram Limited (WFL), perusahaan tambang emas dan tembaga di Australia Barat. Nilai akuisisi mencapai Rp 698,98 miliar (AUD 63,5 juta).
Tak berhenti di situ, BUMI juga mengakuisisi 41,36% saham Jubilee Metals Limited (JML) dan berencana meningkatkan kepemilikannya menjadi 64,98% hingga Agustus 2026. Total investasi untuk akuisisi ini mencapai AU$13.5 juta (setara Rp120 miliar lebih).
Analis pasar, Andika Wijaya dari NH Korindo Sekuritas, memberikan pandangan kritis: “BUMI seperti sedang berlari mencari pertumbuhan baru, sementara luka di bisnis intinya belum sepenuhnya pulih. Akuisisi emas dan tembaga memang strategis untuk jangka panjang, tapi timing-nya patut dipertanyakan mengingat kondisi likuiditas mereka.”
Sinyal Teknis dan Fundamental: Warning untuk Investor
Analisis teknikal terhadap saham BUMI memberikan sinyal peringatan. Berdasarkan indikator MACD dan Stochastic, rekomendasi untuk perdagangan jangka menengah dan pendek adalah “SELL”.
Dari sisi fundamental, beberapa rasio keuangan BUMI masih berada di zona kuning:
- Price to Book Value (PBV): 1.17 – 1.69 kali (cenderung overvalued)
- Net Profit Margin (NPM): 6.18% (di bawah ideal 10%)
- Return on Equity (RoE): 4.41% (jauh di bawah ideal 15%)
Prospek dan Tantangan Ke Depan
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, BUMI tetap memiliki sejumlah catalyst positif. Kepercayaan pasar tercermin dari dimasukkannya saham BUMI dalam tiga indeks bergengsi BEI: LQ45, IDX80, dan Indeks Bisnis-27.
Presiden Direktur BUMI, Adika Nuraga Bakrie, dalam berbagai kesempatan menegaskan komitmen transformasi perusahaan: “Kami tidak hanya sekadar beralih dari batu bara ke mineral, tapi membangun bisnis yang sustainable dan resilient untuk jangka panjang.”
Namun, praktisi tambang senior, Suryo Pratomo, mengingatkan: “Transisi dari tambang batu bara ke mineral tidak semudah membalik telapak tangan. Butuh expertise yang berbeda, modal besar, dan kesabaran. Investor perlu realistis menilai apakah BUMI punya semua itu.”
:: Menanti Hasil Investasi Rp 819 Miliar
Dengan total investasi lebih dari Rp 819 miliar untuk akuisisi tambang emas dan tembaga, BUMI telah memasang taruhan besar. Pertanyaan besarnya: apakah strategi ini akan membuahkan hasil yang sepadan, atau justru menjadi beban baru di tengah penurunan profitabilitas?
Jawabannya akan terungkap dalam laporan keuangan kuartal-kuartal mendatang. Untuk saat ini, investor bijak akan terus memantau dengan skeptisisme sehat.











