Pada hari kebijakan berlaku, ASN disarankan naik angkutan kota dari rumah ke kantor, begitu pula saat pulang. Pemerintah optimistis pendapatan sopir angkot akan naik. Optimisme yang tampaknya tidak mempertimbangkan trayek angkot yang dalam bahasa halus lebih banyak bolongnya dibanding harapan ASN untuk tiba tepat waktu.
“Mudah-mudahan saja pendapatan angkot bisa naik banyak,” harapnya.
Masalah lain muncul beberapa kantor pemerintahan tidak dilalui trayek angkot. ASN harus siap berjalan kaki, setidaknya untuk membuktikan bahwa “kerja keras” memang bisa dimulai dari trotoar.
Nurdin juga mengakui realitas di lapangan banyak ASN bekerja mobile, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Menggunakan angkot untuk jenis pekerjaan ini tentu lebih menantang terutama ketika angkot berhenti bukan karena aturan, melainkan karena sopirnya belanja gorengan dulu.
“Kita harus jujur, mobilitas tanpa kendaraan itu repot,” kata Nurdin, sambil menyiratkan bahwa pemerintah sedang mencoba kebijakan yang bahkan pembuatnya pun tidak sepenuhnya percaya.
Dengan segala keterbatasan trayek, ritme kerja dinamis ASN, dan kebiasaan kemacetan yang tidak mengenal hari, Garut kini menunggu hasil uji coba. Apakah ini terobosan, atau sekadar cara halus mengingatkan ASN bahwa angkot Garut masih eksis?
Yang jelas, perjalanan pulang–pergi ASN di dua hari itu akan jadi drama mini antara mengejar jam masuk kantor, menunggu angkot yang berhenti seenaknya, hingga harapan agar pemerintah menemukan solusi kemacetan yang tidak bersifat “cuma dua hari.”*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










