BandungBisnisPariwisata

Peta Jalan Bandung Menuju Kota Wisata Ramah Muslim yang Kompetitif

rakyatdemokrasi
×

Peta Jalan Bandung Menuju Kota Wisata Ramah Muslim yang Kompetitif

Sebarkan artikel ini
Peta Jalan Bandung Menuju Kota Wisata Ramah Muslim yang Kompetitif locusonline featured image

[locusonline.co, Bandung] Gagasan menjadikan Bandung sebagai destinasi wisata ramah muslim bukanlah sekadar wacana, melainkan sebuah strategi pembangunan ekonomi yang cerdas dan terukur. Pernyataan Wali Kota Muhammad Farhan di Bandung Creative Hub mencerminkan pemahaman mendalam bahwa industri halal telah berubah dari isu keagamaan menjadi strategi ekonomi global. Inisiatif ini bukan hanya untuk melayani wisatawan muslim, tetapi untuk membangun daya saing kota di kancah internasional.

Sertifikasi Halal sebagai Senjata Daya Saing

Wacana yang dibangun Pemkot melampaui narasi tradisional. Farhan dengan tepat memposisikan sertifikasi halal sebagai non-tariff barrier (hambatan non-tarif) dan sekaligus alat penetrasi pasar. Dalam perdagangan global, produk dengan label halal yang kredibel mendapatkan akses ke pasar konsumen muslim dunia yang sedang tumbuh pesat. Bandung, dengan kekuatan industri kreatif dan distronya, dapat memanfaatkan ini. Sebuah kaos dari distro lokal dengan sertifikat halal tidak hanya menjual gaya, tetapi juga nilai dan jaminan yang memenuhi standar internasional, sehingga bisa bersaing dengan produk impor murah yang belum tentu memenuhi kriteria tersebut.

tempat.co

Membangun Ekosistem yang Kokoh

Untuk mewujudkan visi ini, diperlukan langkah-langkah konkret yang membangun ekosistem halal secara menyeluruh. Berikut adalah pilar-pilar utama yang diidentifikasi dari berbagai inisiatif terkait:

Pilar StrategiBentuk Implementasi & Contoh NyataPelaku & Kolaborasi
1. Akses & Fasilitasi SertifikasiPenyediaan sertifikasi halal gratis bagi UMKM yang memenuhi syarat (NIB, NPWP).Pemkot Bandung, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).
2. Penguatan Kapasitas SDMPendidikan dan pelatihan bagi generasi muda sebagai Pendamping Proses Produk Halal (P3H).Pusat Halal Salman ITB, Bank Indonesia, perguruan tinggi (UPI, UIN, UNPAD, UNISBA).
3. Pengembangan Produk & PemasaranFestival Kuliner Halal (kolaborasi dengan Bandung Jazz Festival 2023) dan Hijriah Food Festival 2025.Pemkot, Kadin, komunitas bisnis, UMKM kuliner.
4. Penyediaan Infrastruktur PendukungMemastikan ketersediaan fasilitas ibadah yang layak (mushala) di restoran dan destinasi wisata.Pelaku usaha, asosiasi, Pemkot.
5. Diplomasi & Kolaborasi GlobalPartisipasi dalam pameran internasional seperti Halal Indo 2025 untuk menjangkau buyer global.Kementerian Perindustrian, asosiasi industri, pelaku usaha Bandung.

Peluang & Analisis Pasar: Menangkap Gelombang Wisata Halal Global

Bandung beroperasi dalam konteks peluang nasional yang besar. Indonesia sedang mengalami lonjakan kunjungan wisatawan muslim internasional, dengan peningkatan hingga 47% pada tahun 2025 dibanding tahun sebelumnya. Tren global ini didorong oleh kebutuhan akan destinasi yang tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, tetapi juga jaminan kehalalan produk, kemudahan beribadah, dan privasi bagi keluarga muslim.

Keberhasilan mengembangkan ekosistem halal di Bandung akan memberikan dampak ekonomi berantai yang signifikan. Gelaran seperti Hijriah Food Festival 2025 yang memadukan kuliner Nusantara, Tiongkok, dan Timur Tengah tidak hanya menjadi atraksi wisata, tetapi juga platform diplomasi budaya dan ekonomi yang memperkuat UMKM lokal.

Tantangan & Pertimbangan Strategis

Meski peluangnya besar, beberapa tantangan perlu diantisipasi:

  • Konsistensi Standar: Penting untuk memastikan bahwa label “halal” yang digunakan didukung oleh sertifikasi resmi untuk membangun dan mempertahankan kepercayaan wisatawan.
  • Pendidikan Pelaku Usaha: Banyak pelaku UMKM, terutama skala mikro, mungkin belum sepenuhnya memahami kompleksitas dan nilai tambah dari sertifikasi halal, sehingga diperlukan pendampingan yang berkelanjutan.
  • Keseimbangan Inklusivitas: Seperti ditekankan Farhan, Bandung adalah “melting pot of cultures”. Pengembangan wisata ramah muslim harus dilakukan dengan prinsip inklusivitas yang memperkuat kohesi sosial, tanpa menimbulkan kesan eksklusif bagi wisatawan non-muslim.

Dari Konsep Menuju Realitas

Untuk mempercepat realisasi visi ini, beberapa langkah tambahan dapat dipertimbangkan:

  1. Membuat Peta Digital Wisata Halal Bandung: Sebuah platform atau peta digital yang menginformasikan restoran bersertifikat halal, lokasi mushala, hotel dengan fasilitas ramah keluarga, serta pusat belanja produk halal.
  2. Memperkuat Jejaring dengan Destinasi Lain: Membangun paket wisata halal corridor bersama kota/kabupaten lain di Jawa Barat (seperti Garut dengan potensi Situ Bagendit) untuk menawarkan pengalaman yang lebih beragam.
  3. Mendorong Inovasi Produk Kreatif Halal: Tidak terbatas pada kuliner, tetapi juga meliputi fesyen, kosmetik, dan produk kerajinan yang memenuhi prinsip halal dan menjadi oleh-oleh khas.

::

Komitmen Pemkot Bandung untuk menjadi kota wisata ramah muslim adalah langkah strategis yang selaras dengan tren global dan potensi lokal. Dengan pendekatan yang melihat sertifikasi halal sebagai alat peningkatan daya saing ekonomi, serta implementasi melalui kolaborasi multipihak yang membangun ekosistem—mulai dari fasilitasi sertifikasi, pendidikan SDM, festival, hingga penyediaan infrastruktur—Bandung tidak hanya sedang membangun citra sebagai destinasi yang aman dan nyaman bagi wisatawan muslim, tetapi juga sedang memposisikan diri sebagai hub ekonomi kreatif halal yang relevan di tingkat regional dan global. Kesuksesannya akan diukur dari seberapa besar inisiatif ini mampu mendorong pertumbuhan UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan sekaligus memperkuat identitas Bandung sebagai kota yang kreatif, inklusif, dan berdaya saing. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow