LOCUSONLINE, GARUT – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu proyek unggulan Presiden Prabowo Subianto, kembali menuai sorotan. Di Kabupaten Garut, program yang digadang-gadang sebagai penyelamat gizi generasi masa depan justru memunculkan ironi baru anak libur sekolah, tapi tetap disuruh datang demi sebungkus makan.
Belum reda ingatan publik soal kasus keracunan massal di sejumlah daerah, pelaksanaan MBG di Garut kini menghadapi persoalan teknis dan kualitas. Mulai dari tata kelola yang membingungkan, menu yang berubah, hingga dugaan penurunan nilai gizi makanan.
Ketua DPRD Kabupaten Garut, Aris Munandar, mengungkapkan adanya laporan masyarakat terkait pelaksanaan MBG selama masa libur sekolah. Salah satu yang paling disorot, siswa tetap diminta datang ke sekolah meski tidak ada kegiatan belajar-mengajar.
“Dihadapkan dengan hari libur, kemarin juga ada informasi ke saya, anak sekolah ini tetap harus ke sekolah hanya untuk mengambil makanan,” kata Aris, Rabu (31/12/2025).
Baca Juga :
Keracunan Massal MBG di Jabar: Dari Makan Gratis Jadi Rame-Rame ke Rumah Sakit
Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan publik: apakah MBG dirancang untuk menyehatkan anak, atau sekadar menyehatkan laporan realisasi program?
Aris menyebut keluhan ini menjadi catatan serius DPRD. Namun ia juga menegaskan batas kewenangan lembaganya yang hanya sebatas pengawasan, bukan eksekusi.
“Setiap keluhan pasti kita tampung. Saya juga selalu berkoordinasi dengan Pak Sekda selaku Ketua Tim Pengawasan. Keluhan dari ibu-ibu soal anak harus tetap ke sekolah hanya untuk ambil makanan juga sudah saya sampaikan,” ujarnya.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”













