“Mungkin bahasa penyampaiannya yang kurang berkenan, tetapi reaksi berlebihan juga tentu tidak tepat. Karena itu kami akan memanggil semua pihak, termasuk camat, untuk dimediasi,” katanya.
Pernyataan tersebut memunculkan ironi tersendiri. Jalan rusak yang sudah lama dikeluhkan warga baru benar-benar menjadi perhatian serius setelah disertai video viral dan dugaan intimidasi. Sementara kritik warga, alih-alih dijawab dengan aspal dan alat berat, justru dibalas dengan tekanan sosial.
Abdusy memastikan pemerintah daerah berkomitmen menjaga kondusivitas dan menjamin masyarakat dapat menyampaikan aspirasi tanpa rasa takut. Pembangunan, kata dia, tetap menjadi prioritas utama Pemkab Garut.
“Yang paling penting bagi kami pembangunan tetap berjalan dan hubungan sosial masyarakat tetap terjaga,” pungkasnya.
Di Cisewu, pembangunan kini dijanjikan, mediasi disiapkan, dan kamera ponsel kembali terbukti lebih ampuh dari proposal musrenbang. Jalan rusak boleh menahun, tapi konten viral tetap jadi akses tercepat menuju perhatian pemerintah.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”













