BPBD juga mengaku telah berkoordinasi dengan dinas terkait untuk membahas rencana pembangunan kembali atau relokasi sekolah, tentu saja setelah rekomendasi teknis dari PVMBG keluar dan dibaca bersama.
Guru MI Darul Hikmah, Siti Saadah, menyebutkan bahwa memaksakan belajar di ruang kelas yang retak bukanlah pilihan rasional. Risiko keselamatan dianggap terlalu besar dibandingkan manfaat mempertahankan suasana “sekolah normal”.
“Bangunan sudah rusak. Kalau dipaksakan, murid dan guru takut. Itu berisiko, jadi terpaksa belajar di tenda,” katanya.
Namun, ia mengakui pembelajaran di tenda darurat tidak berjalan optimal. Keterbatasan fasilitas, kondisi lingkungan, hingga cuaca menjadi tantangan tersendiri bagi para guru dalam menyampaikan materi.
Keluhan serupa datang dari murid. Adil, salah satu siswa, mengaku kesulitan berkonsentrasi karena suasana belajar yang panas, becek saat hujan, dan bising akibat lalu lintas kendaraan. Kondisi makin rumit karena seluruh siswa, dari jenjang PAUD hingga kelas VI, harus belajar bersama dalam satu tenda.
“Tidak nyaman. Panas, berisik, kalau hujan becek. Semua siswa juga disatukan,” ujarnya.
Sementara kajian masih berjalan dan laporan teknis dinanti, murid-murid Banjarwangi belajar dengan realitas baru: memahami pelajaran di bawah tenda, sambil berharap tanah segera berhenti bergerak dan keputusan tak ikut berlarut-larut.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












