[Locusonline.co] Bandung — Menyikapi tragedi longsor yang melanda Kabupaten Bandung Barat (KBB), Pemerintah Kota Bandung (Pemkot Bandung) mengerahkan strategi komprehensif untuk membentengi wilayahnya dari ancaman bencana lanjutan yang berasal dari kawasan hulu. Dalam konteks ini, Kota Bandung diposisikan sebagai wilayah yang menerima dampak akhir dari setiap perubahan ekologis di daerah atasnya.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menekankan posisi geografis kota yang menghadapi risiko langsung dari kondisi Bandung Utara. “Kota Bandung ini penerima akibat. Jadi kita mesti lebih antisipasi menghadapi dampak-dampak tersebut,” ujar Farhan seusai Launching Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah di Ujungberung, Senin lalu . Komitmen ini diwujudkan melalui pengawasan ketat, peningkatan teknologi peringatan dini, dan program tambah Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai pertahanan jangka panjang .
Peta Kawasan Genting dan Strategi Pengawasan Pemkot
Pemkot Bandung memetakan kawasan rawan yang membutuhkan pengawasan khusus, yakni rentang area dari Gunung Burangrang hingga Gunung Manglayang yang membentang di Bandung Utara dari barat ke timur . Wilayah ini secara administratif mencakup empat kecamatan di Kota Bandung: Cidadap, Coblong, Sukasari, dan Mandalajati .
Fokus pengawasan tertuju pada sungai-sungai yang menjadi saluran utama limpasan air dari hulu, yaitu Cikapundung, Cidurian, dan aliran lainnya . Untuk memantau ancaman banjir bandang, saat ini telah terpasang satu sensor ketinggian air di Sungai Cikapundung. Rencananya, teknologi serupa akan ditambah di beberapa titik lain sebagai bagian dari sistem peringatan dini .
Selain teknologi, strategi jangka menengah dan panjang difokuskan pada penambahan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Target Pemkot adalah mencapai proporsi RTH minimal 30 persen sesuai ketentuan .
Beberapa langkah konkret yang dijalankan antara lain:
- Perhitungan Ulang Luasan: Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi dan Tata Ruang (Cipta Bintar) bekerja sama dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Kementerian ATR tengah melakukan penghitungan ulang luasan RTH yang akurat .
- Kerja Sama dengan Swasta: Membuka peluang skema Corporate Social Responsibility (CSR) dengan perusahaan-perusahaan besar untuk membuka atau mengelola RTH baru di Kota Bandung .
- Penataan Ulang Ruang Kota: Opsi relokasi dan penataan ulang tata ruang kota juga dibuka untuk mengejar target tersebut .
Kesiapan Anggaran dan Dukungan untuk KBB
Dari sisi pendanaan, Pemkot Bandung memastikan kesiapan anggaran untuk kondisi darurat. Cadangan dana Belanja Tidak Terduga (BTT) atau Biaya Tak Terduga yang dimiliki mencapai sekitar Rp29 miliar, meski sebagian telah digunakan untuk program penanganan sampah . Dana ini bersifat fleksibel dan dapat dialihkan dengan cepat jika terjadi bencana .
Saat ini, Pemkot Bandung juga turut memberikan dukungan tanggap darurat untuk penanganan bencana di KBB. Bantuan yang diberikan bersifat operasional, termasuk pengerahan personel dan logistik dari gudang pemerintah. Dua unit satuan pemadam kebakaran dikerahkan untuk membantu proses evakuasi korban di area berlumpur dengan metode penyemprotan air, karena penggunaan alat berat dinilai tidak memungkinkan dalam kondisi lapangan tertentu .
Langkah antisipatif Pemkot Bandung ini merupakan respon langsung dari peristiwa bencana longsor dahsyat di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, KBB, yang terjadi pada Sabtu, 24 Januari 2026 dini hari . Bencana ini telah menelan banyak korban jiwa dan menyebabkan kerusakan parah. Pihak berwenang menetapkan status darurat bencana di wilayah tersebut .
Di sisi hulu, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Utara telah mengambil langkah preventif dengan menutup sementara seluruh aktivitas wisata dan kegiatan eksternal di kawasan hutannya dari tanggal 24 hingga 31 Januari 2026. Langkah ini diambil demi keselamatan masyarakat dan mengantisipasi potensi longsor susulan .
Ke depannya, Pemkot Bandung berharap rangkaian strategi mitigasi yang komprehensif ini dapat meminimalkan risiko dan dampak bencana bagi warganya, serta membangun ketahanan kota yang lebih baik dalam menghadapi tantangan alam. (**)













