Keuangan

Rupiah Menanjak, Tapi Drama Global Belum Usai

rakyatdemokrasi
×

Rupiah Menanjak, Tapi Drama Global Belum Usai

Sebarkan artikel ini
Rupiah Menanjak, Tapi Drama Global Belum Usai locusonline featured image Jan2026

[Locusonline.co] Jakarta, – Rupiah membuka perdagangan Rabu pagi dengan sentimen positif, menguat 0,21% atau 36 poin terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) ke posisi Rp 16.732. Penguatan ini berlangsung di tengah ekspektasi pasar yang kuat bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan sikap kebijakan moneter yang longgar (dovish) pada pertemuan pertamanya di tahun ini.

Analis menilai pelemahan indeks dolar secara global jelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menjadi pendorong utama apresiasi mata uang nasional. Meskipun The Fed diperkirakan belum akan mengubah suku bunga acuan yang saat ini berada di kisaran 3,5-3,75%, pernyataan dan proyeksi arah kebijakan ke depan menjadi sorotan utama pelaku pasar.

tempat.co

Latar Belakang Kebijakan The Fed yang Penuh Tekanan

Sikap longgar The Fed yang diantisipasi pasar tidak terlepas dari rentetan keputusan dan tekanan politik yang intens pada akhir tahun 2025. The Fed telah melakukan tiga kali pemotongan suku bunga berturut-turut pada September, Oktober, dan Desember 2025, dengan total 75 basis points (bps).

Langkah agresif ini terjadi di tengah tekanan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Presiden AS Donald Trump, yang secara terbuka telah berulang kali mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga. Bahkan, pemerintahan AS dilaporkan tengah menyelidiki dugaan tindakan kriminal terhadap Ketua The Fed Jerome Powell, yang dianggap sebagai bagian dari upaya Trump untuk memaksa bank sentral mengikuti keinginannya.

Sentimen Global dan Faktor Eksternal Pendukung Rupiah

Selain ekspektasi terhadap The Fed, beberapa faktor eksternal turut mendorong aksi pelepasan aset dolar (dollar sell-off) oleh pelaku pasar global:

  • Ketidakpastian Kebijakan Perdagangan Trump: Rencana Presiden Trump untuk memberlakukan tarif impor ekstrem, seperti tarif 100% untuk ekspor Kanada dan kenaikan tarif otomotif Korea Selatan menjadi 25%, menciptakan ketidakpastian yang mendorong investor mengurangi eksposur terhadap dolar AS.
  • Pelemahan Indeks Dolar: Indeks Dolar AS (DXY) yang melemah menjelang pertemuan The Fed membuat mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, terlihat lebih menarik.

Respons dan Strategi Bank Indonesia

Di tengah angin positif dari global, Bank Indonesia (BI) mengambil posisi yang hati-hati namun optimis. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa penguatan Rupiah didukung fundamental yang kokoh, meliputi:

  • Inflasi yang terkendali rendah.
  • Pertumbuhan ekonomi yang terus membaik.
  • Imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik.
  • Komitmen penuh BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

BI telah mengambil langkah antisipatif dengan secara bertahap melonggarkan kebijakan moneter domestik. Sejak September 2024, BI telah menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebanyak 5 kali, membawanya ke level 4,75%, dan tetap membuka ruang untuk penurunan lebih lanjut.

Untuk menjaga stabilitas, BI juga secara aktif melakukan intervensi di berbagai pasar valuta asing, baik di dalam negeri (pasar tunai, spot, dan DNDF) maupun di luar negeri (pasar NDF di Asia, Eropa, dan Amerika).

Analisis Pasar dan Proyeksi

Analis memperkirakan pergerakan Rupiah pada hari ini akan berada dalam kisaran Rp 16.710 – Rp 16.770 per dolar AS. Penguatan berkelanjutan akan sangat bergantung pada:

  1. Keputusan dan Sikap The Fed: Pernyataan resmi dan “dot plot” dari pertemuan FOMC nanti malam (waktu AS) akan menjadi penentu sentimen jangka pendek. Sikap yang lebih dovish dari perkiraan dapat mendorong pelemahan dolar lebih lanjut.
  2. Stabilitas Domestik: Komitmen BI dalam menjaga stabilitas dan mengendalikan faktor inflasi jangka pendek, khususnya dari harga pangan akibat cuaca ekstrem, akan menjadi kunci.
  3. Eskalasi Kebijakan Trump: Jika ancaman kebijakan tarif AS menjadi kenyataan, dapat memicu kembali volatilitas pasar global yang berpotensi membatasi penguatan Rupiah.

Implikasi bagi Investor dan Pelaku Usaha

Penguatan Rupiah memberikan beberapa sinyal positif:

  • Bagi Investor Asing: Melemahnya dolar AS dan stabilnya Rupiah meningkatkan daya tarik imbal hasil (yield) dari aset finansial Indonesia, seperti surat utang negara (SUN) dan saham.
  • Bagi Importir dan Perusahaan Berutang Dollar: Biaya impor dan pembayaran utang luar negeri menjadi lebih ringan, meningkatkan margin keuntungan dan kesehatan neraca.
  • Bagi Pemerintah: Memberikan ruang fiskal yang lebih longgar dan menekan beban pembayaran utang denominasi asing.

Namun, pelaku usaha dan investor tetap disarankan untuk melakukan lindung nilai (hedging) yang prudent mengingat pasar valas masih sangat rentan terhadap gejolak politik global dan perubahan sentimen yang cepat.

::

Apresiasi Rupiah pagi ini mencerminkan respons pasar terhadap ekspektasi kelanjutan sikap longgar The Fed, didukung oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian kebijakan Trump dan fundamental domestik yang dijaga BI. Nilai tukar diperkirakan akan tetap volatil dalam jangka pendek, dengan arah tren sangat bergantung pada hasil pertemuan The Fed malam ini dan kemampuan BI dalam menjaga stabilitas di tengah arus modal global yang dinamis. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow