Bandung

Dago Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Ini Benang Kusut yang Diakui Farhan

rakyatdemokrasi
×

Dago Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Ini Benang Kusut yang Diakui Farhan

Sebarkan artikel ini
Dago Bukan Sekadar Tempat Nongkrong, Ini Benang Kusut yang Diakui Farhan locusonline featured image Jan2026

[Locusonline.co] Bandung — Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, secara terbuka mengakui kerumitan yang menyelimuti pengelolaan kawasan Dago, yang berstatus ganda sebagai jantung industri pariwisata Kota Bandung sekaligus permukiman padat warga. Komitmen untuk mencari solusi terpadu ini disampaikannya dalam acara Siskamling Siaga Bencana ke-80 di Kelurahan Dago, Jumat (30/1).

“Dago ini kecil secara wilayah, tapi masalahnya sangat kompleks,” ujar Farhan di hadapan warga dan perangkat kelurahan. Ia menekankan bahwa tantangan utamanya adalah memastikan roda industri pariwisata tidak hanya berputar, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang langsung terasa bagi masyarakat lokal, seraya menjaga keseimbangan lingkungan dan kenyamanan hidup warga.

tempat.co

Tantangan Berlapis di Kawasan Ikonik

Farhan membeberkan sejumlah persoalan klasik yang timbul dari padatnya aktivitas di Dago, antara lain:

  1. Kemacetan Lalu Lintas: Arus kendaraan wisatawan yang tinggi kerap berbenturan dengan mobilitas harian warga.
  2. Tekanan pada Kebersihan & Daya Dukung Lingkungan: Volume sampah dan limbah yang meningkat membutuhkan pengelolaan ekstra, sementara infrastruktur dasar seperti drainase dan ruang terbuka hijau (RTH) menghadapi tekanan berat.
  3. Kesenjangan Manfaat Ekonomi: Tidak semua pelaku usaha pariwisata melibatkan atau memberdayakan warga setempat, sehingga manfaat ekonomi seringkali tidak merata.
Walikota Bandung, Farhan di hadapan warga dan perangkat kelurahan

Pendekatan Kolaboratif: Mencari Titik Temu

Menyadari bahwa solusi sepihak dari pemerintah tidak akan efektif, Wali Kota menawarkan pendekatan kolaborasi dan kompromi. “Kita akan mencari titik tengah untuk saling menyesuaikan, baik industri maupun masyarakat harus saling menyesuaikan,” tegas Farhan.

Hal ini mengindikasikan bahwa Pemkot akan mendorong dialog dan kemitraan antara pelaku usaha (hotel, restoran, kafe, tempat wisata) dengan komunitas warga. Model yang mungkin dikembangkan bisa berupa program pemberdayaan ekonomi lokal (seperti pemagangan, prioritas penerimaan tenaga kerja lokal, atau pengembangan produk UMKM berbasis kearifan lokal), serta aturan bersama terkait pengelolaan sampah dan lalu lintas kendaraan.

Peran Krusial Siskamling dan Keterlibatan Warga

Farhan juga menekankan bahwa Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) tidak hanya berfungsi sebagai penjaga keamanan konvensional. Dalam konteks Dago, forum warga ini diproyeksikan menjadi ujung tombak dalam:

  • Kesiapsiagaan Bencana: Memantau risiko lokal seperti genangan air atau pohon tumbang di musim hujan.
  • Pengawasan Lingkungan: Melaporkan pelanggaran kebersihan atau aktivitas yang merusak ketertiban umum.
  • Jembatan Komunikasi: Menjadi saluran aspirasi warga kepada pemerintah dan pelaku usaha.

“Ini semua mesti kita tangani bersama,” tutup Farhan, menegaskan bahwa keberhasilan mengurai benang kusut Dago bergantung pada sinergi tripodal: kebijakan pemerintah yang pro-rakyat, tanggung jawab sosial pelaku usaha, dan partisipasi aktif masyarakat.

Pernyataan Wali Kota ini menjadi sinyal kuat bahwa Pemkot Bandung sedang menyiapkan pendekatan baru yang lebih holistik dan inklusif untuk mengelola kawasan wisata perkotaannya yang paling terkenal, dengan Dago sebagai pilot project. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow