BPS juga menebar optimisme ke awal 2026. Potensi luas panen Januari–Maret diproyeksikan 0,42 juta hektare, naik 20,89 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Produksi padi awal tahun depan diperkirakan mencapai 2,48 juta ton GKG atau setara 1,43 juta ton beras.
Tak hanya padi, jagung ikut unjuk gigi. Produksi jagung pipilan kering (KA 14 persen) sepanjang 2025 melesat 40,85 persen menjadi 794,82 ribu ton. Puncak panen kembali terjadi pada Maret, dengan luas panen 16,32 ribu hektare konsisten, tanpa perlu seremoni.
Untuk awal 2026, produksi jagung diprediksi tetap di jalur hijau, sekitar 330,96 ribu ton, naik 8,38 persen dari realisasi tahun lalu. Angka ini masih sementara, berbasis potensi luas panen dan rata-rata produktivitas SR I 2024–2025.
Ninik menegaskan, capaian dua digit pada padi dan jagung menjadi modal penting menjaga stabilitas harga pangan dan menopang ketahanan pangan nasional. Tinggal satu catatan kecil: panen sudah kerja keras sekarang giliran kebijakan ikut matang, bukan cuma matang di pidato.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”











