[Locusonline.co] Bandung, — Pemerintah Kota Bandung terus bergulat dengan tantangan pengelolaan sampah perkotaan yang kian akut. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengungkapkan bahwa selama Januari 2026, volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti masih mengacu pada kuota regulasi lama, yaitu rata-rata 170 rit per hari. Angka ini setara dengan 979 ton sampah yang setiap harinya meninggalkan Kota Bandung menuju TPA regional yang juga menampung sampah dari Kabupaten Bandung Barat dan Cimahi.
“Kondisi ini masih sesuai regulasi yang berlaku karena belum ada kebijakan baru terkait kuota,” ujar Farhan, Minggu (1/2). Namun, ia mengakui adanya peningkatan tumpukan sampah di beberapa titik, khususnya di Sub Wilayah Kota (SWK) Bojonegara dan Tegallega.
Tekanan pada Sistem dan Dampak Lingkungan
Kapasitas TPA Sarimukti yang terus menipis menjadi ancaman serius. Berdasarkan kajian tahun 2024, kapasitas tampungnya hanya tersisa untuk 5-6 tahun ke depan (hingga sekitar 2030), dengan kontribusi sampah Kota Bandung mencapai 48.76% dari total volume. Kondisi ini diperparah oleh cuaca ekstrem yang mengganggu operasional.
Farhan menceritakan, “Beberapa waktu lalu sempat terjadi antrean kendaraan, bahkan ada yang terguling karena kondisi lahan licin akibat hujan.” Selain itu, pola pengiriman yang nihil pada hari Minggu selalu memicu lonjakan volume di hari Senin, menekankan pentingnya penguatan sistem di tingkat hulu atau sumber.
Peta Strategi Pemkot Bandung 2026
Untuk mengatasi krisis ini, Pemkot Bandung tidak hanya mengandalkan TPA, tetapi meluncurkan serangkaian strategi terpadu untuk mengurangi ketergantungan sekaligus meningkatkan pengolahan di sumber.Strategi & Program Tujuan & Sasaran Skala & Target Status (Awal Feb 2026) Program GASLAH Pemilahan & pengolahan sampah di tingkat rumah tangga & RW. Rekrut 1.376 petugas. Diluncurkan 26 Jan di Ujungberung. Target aktif minggu pertama Februari. Pendamping KBS Memandu tiap kelurahan mencapai Kawasan Bebas Sampah (KBS). 1 orang pendamping per kelurahan. Tahap profiling wilayah sedang berjalan. Optimalisasi TPST ISWMP Mengolah sampah skala kota sebelum ke TPA. Operasional hingga Juni 2026. Sedang diupayakan pengoperasian kembali. Penanganan Pasar Caringin Atasi persoalan sampah pasar swasta terbesar. Kuota 3 rit/hari ke TPA sebagai cadangan. Dokumen lingkungan belum lengkap, tapi satgas pedagang & 2 titik kontainer sudah berjalan.
Catatan: Program GASLAH merupakan tulang punggung strategi upstream. Jika target 1.376 petugas tidak tercapai awal Februari, rekrutmen ulang akan dilakukan pada Maret 2026.
Langkah Tambahan dan Tantangan Ke Depan
Selain program inti, upaya lain juga digenjot. Pemkot mengoptimalkan fungsi TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang ada di kelurahan, meski beberapa masih menghadapi kendala operasional. Untuk sektor formal, diperkenalkan sistem “One Gate System” bagi pengangkut sampah komersial guna memastikan pembayaran retribusi.
Meski begitu, jalan masih panjang. Kepadatan penduduk dan pola konsumsi yang tinggi tetap menjadi sumber utama timbulan sampah. Keberhasilan program sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam memilah sampah dari rumah, serta konsistensi pengawasan dan evaluasi dari pemerintah.
Dengan paket kebijakan yang kini lebih terarah ke hulu, Pemkot Bandung berharap dapat secara bertahap mengurangi beban TPA Sarimukti. Target jangka panjangnya jelas: membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan tidak lagi hanya mengandalkan “kuburan sampah” akhir yang daya tampungnya kian kritis. (**)













