[Locusonline.co] Bandung – Momentum libur panjang Tahun Baru Imlek 2026 mengubah wajah Kota Bandung menjadi lautan kendaraan. Sejak Sabtu (14/2) pagi, sejumlah ruas jalan utama mengalami kepadatan luar biasa, menandai tingginya mobilitas masyarakat yang memanfaatkan akhir pekan panjang untuk berwisata atau pulang kampung. Data dari Jasamarga mencatat lonjakan signifikan volume kendaraan di ruas tol menuju dan meninggalkan Bandung, dengan rata-rata peningkatan mencapai 9,54 persen dibandingkan hari normal.
Titik-Titik Macet: Dari Pasteur hingga Dago, Semua Merah di Peta
Pantauan di lapangan menunjukkan kemacetan parah terjadi di sejumlah titik strategis, dengan kawasan Jalan Dr. Djunjunan atau Pasteur menjadi yang paling terdampak. Antrean kendaraan terlihat mengular dari simpang Pasteur hingga Flyover Pasupati, didominasi kendaraan roda dua dan roda empat dengan pelat nomor lokal D, namun juga diwarnai pelat dari luar kota seperti B (Jakarta), T (Purwakarta), dan Z (Garut/Ciamis).
Tidak hanya Pasteur, ruas-ruas berikut juga mengalami perlambatan signifikan:Ruas Jalan Kondisi Dominasi Kendaraan Jalan Pasteur Macet parah, antrean hingga Pasupati Lokal D & luar kota (B, T, Z) Jalan Dago Padat merayap, terutama di sekitar kawasan wisata Campuran lokal & wisatawan Jalan Merdeka Perlambatan di sekitar pusat perbelanjaan Didominasi lokal Jalan Asia-Afrika Padat di sekitar Alun-alun dan area wisata Wisatawan domestik
Aparat kepolisian dan petugas Dinas Perhubungan (Dishub) terlihat bersiaga di sejumlah titik untuk mengatur arus kendaraan dan mencegah kemacetan semakin parah. Namun, tingginya volume kendaraan membuat upaya pengaturan lalu lintas menjadi tantangan berat.
Data Tol: 147 Ribu Kendaraan Melintas, Naik Hampir 10 Persen
Senior General Manager Jasamarga Metropolitan Tollroad Regional Division, Widiyatmiko Nursejati, merilis data lengkap lonjakan kendaraan di ruas tol wilayah Jawa Barat selama periode libur Imlek.Indikator Volume Libur Imlek Volume Normal Kenaikan Total kendaraan melintas 147.338 134.508 +9,54%
Data ini menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat menuju dan meninggalkan Bandung meningkat drastis, menjadikan Bandung sebagai salah satu destinasi favorit selama libur panjang.
Gerbang Tol Cileunyi (Gerbang Timur Bandung)Arah Volume Libur Imlek Volume Normal Kenaikan Masuk ke Bandung (dari Rancaekek, Garut) 32.865 28.579 +15,00% Keluar dari Bandung (menuju Rancaekek, Garut) 40.935 37.844 +8,17%
Catatan: Kenaikan tertinggi terjadi pada kendaraan yang masuk ke Bandung dari arah timur, menandakan tingginya minat wisatawan dari Garut, Tasik, dan sekitarnya untuk berlibur ke Bandung.
Gerbang Tol Pasteur (Gerbang Barat Bandung)Arah Volume Libur Imlek Volume Normal Kenaikan Masuk ke Bandung (dari arah Cimahi, Jakarta) 40.774 36.824 +10,73% Keluar dari Bandung (menuju Cimahi, Jakarta) 32.764 31.261 +4,81%
Catatan: Arus kendaraan yang masuk ke Bandung dari arah barat juga melonjak signifikan, menunjukkan bahwa Bandung menjadi tujuan utama wisatawan dari Jakarta dan sekitarnya.
Beberapa faktor menjelaskan fenomena ini:
1. Bandung sebagai Destinasi Wisata Utama
Kota Bandung telah lama dikenal sebagai “surga belanja” dan “kota kulin-er” favorit wisatawan domestik. Dengan cuaca sejuk, berbagai factory outlet, kafe instagramable, dan wisata alam di sekitarnya, Bandung menjadi pilihan utama untuk liburan singkat.
2. Dominasi Kendaraan Lokal
Meskipun banyak kendaraan luar kota, data menunjukkan bahwa kendaraan dengan pelat D (Bandung Raya) masih mendominasi. Artinya, warga Bandung sendiri juga memanfaatkan libur panjang untuk beraktivitas di dalam kota, berbelanja, atau mengunjungi tempat wisata lokal.
3. Keterbatasan Infrastruktur Transportasi Massal
Meski Pemkot Bandung tengah mengembangkan sistem transportasi massal seperti BRT, saat ini ketergantungan pada kendaraan pribadi masih sangat tinggi. Akibatnya, setiap lonjakan mobilitas langsung berdampak pada kemacetan.
4. Efek “Catch-Up” Pasca Pandemi
Kebiasaan bepergian dan berlibur yang sempat terhambat selama pandemi kini meletus dalam bentuk mobilitas tinggi setiap kali ada momentum libur panjang.
5. Promosi dan Event Wisata
Berbagai event dan promosi wisata yang digelar Pemkot Bandung dan pelaku industri kreatif turut menarik minat wisatawan untuk menghabiskan libur panjang di Bandung.
Respons Pemerintah: Rekayasa Lalu Lintas dan Imbauan
Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Perhubungan dan aparat kepolisian telah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi kemacetan:Langkah Implementasi Penambahan petugas di titik rawan Personel Dishub dan polisi ditempatkan di simpang Pasteur, Dago, dan Asia-Afrika Rekayasa lalu lintas Pemberlakuan buka-tutup jalur jika kepadatan ekstrem Imbauan kepada pengendara Mematuhi aturan, menjaga jarak aman, dan menggunakan jalur alternatif Informasi real-time Update kondisi lalu lintas melalui media sosial dan aplikasi Yes! Jitu
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan juga mengimbau masyarakat untuk merencanakan perjalanan dengan matang dan memanfaatkan transportasi umum jika memungkinkan.
Proyeksi hingga Akhir Pekan
Berdasarkan pola tahun sebelumnya, puncak arus balik diprediksi terjadi pada Minggu (15/2) hingga Senin (16/2) sore. Masyarakat yang akan kembali ke kota asal diimbau untuk:
- Berangkat lebih awal atau memilih waktu di luar jam puncak (misalnya malam hari)
- Memantau informasi lalu lintas secara berkala
- Menyiapkan bekal dan kondisi kendaraan agar perjalanan nyaman
Di balik kemacetan, ada cerita ekonomi yang menggembirakan. Lonjakan wisatawan berdampak positif pada:
- Sektor perhotelan: Tingkat okupansi hotel di Bandung mencapai 85-90% selama libur panjang.
- Kuliner dan restoran: Selalu penuh, terutama di kawasan Dago, Setiabudi, dan pusat kota.
- Pusat perbelanjaan: Factory outlet dan mall kebanjiran pengunjung.
- UMKM kreatif: Produk fesyen dan suvenir laris manis.
Wali Kota Farhan dalam berbagai kesempatan menyebut bahwa “macet adalah konsekuensi dari ekonomi yang bergerak.” Namun ia tetap mendorong penguatan transportasi massal sebagai solusi jangka panjang.
Libur Panjang Adalah Cermin Tantangan dan Peluang Bandung
Kemacetan saat libur panjang Imlek 2026 menjadi cermin dua sisi mata uang:
Sisi positif: Bandung tetap menjadi destinasi favorit, ekonomi bergerak, UMKM untung, dan kota hidup.
Sisi negatif: Infrastruktur transportasi masih perlu ditingkatkan, ketergantungan pada kendaraan pribadi masih tinggi, dan kenyamanan warga terganggu.
Pemerintah Kota Bandung telah menunjukkan respons cepat dengan menurunkan petugas, mengatur lalu lintas, dan memberikan informasi real-time. Namun, solusi jangka panjang tetap pada penguatan transportasi massal dan perluasan moda transportasi ramah lingkungan.
Dengan lonjakan 9,54 persen volume kendaraan tol dan ribuan kendaraan memadati jalan utama, Bandung sekali lagi membuktikan diri sebagai jantung ekonomi dan wisata Jawa Barat. Kini tinggal bagaimana pemerintah dan masyarakat bersama-sama menjadikan mobilitas ini lebih tertata, aman, dan nyaman.
Selamat menikmati libur panjang, warga Bandung dan wisatawan! Tetap tertib berlalu lintas, jaga keselamatan, dan nikmati keindahan Kota Kembang.













