[Locusonline.co] BANDUNG – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meluncurkan gagasan revolusioner di bidang layanan kesehatan: menyewa helikopter selama setahun penuh untuk melayani wilayah-wilayah terpencil. Bukan untuk kepentingan pribadi atau kunjungan kerja, helikopter ini akan difungsikan sebagai ambulans udara yang siap menjemput pasien gawat darurat dan mengantar dokter spesialis ke rumah sakit daerah yang sulit dijangkau.
Rencana ini disampaikan Dedi saat berdialog dengan Direktur RSUD Jampang Kulon, Lusi Apria, yang mengeluhkan minimnya dokter spesialis di rumah sakitnya. Bahkan, beberapa dokter memilih hengkang karena tidak betah.
“Dicari lagi (dokter). Atau perlu saya siapkan helikopter. Ada helipad enggak di situ. Saya mau kontrak heli, kontrak setahun sama gubernur aja. Itu untuk dokter kunjungan dan mengantar pasien ke rumah sakit lebih besar,” ujar Dedi.
Skema “On Call” Selama Setahun, Dikelola Dinkes
Gubernur memastikan bahwa helikopter yang disewa akan berada di bawah kendali Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat dengan sistem on call 24 jam. Artinya, helikopter hanya akan terbang jika ada panggilan medis, baik untuk menjemput pasien kritis maupun menerbangkan tim dokter spesialis ke daerah terpencil.
Dedi menegaskan, helikopter ini tidak akan digunakan untuk keperluan pribadi atau dinas di luar urusan kesehatan.
“On call, Dinkes sewa helikopter setahun. Pemprov menyewa heli bukan untuk kepentingan gubernur keliling naik heli, untuk kepentingan paramedis. Menggunakan heli sebagai sarana cepat menangani pasien dan agar dokter-dokter spesialis itu mau berkunjung ke sana,” tegasnya.
Prioritas untuk Daerah Terpencil, Helipad Segera Dibangun
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat, Herman Suryatman, menindaklanjuti arahan gubernur dengan mempersiapkan pembangunan helipad (landasan helikopter) di sejumlah RSUD yang berada di wilayah terpencil.
“Tentu prioritasnya RSUD yang jauh dari jangkauan. Kalau dekat, kenapa harus pakai helikopter. Kan keburu sama ambulans juga logikanya begitu. Yang jauh dari jangkauan, kebayang kan dari Pameungpeuk harus ke Hasan Sadikin, ” ujar Herman, Rabu (25/2/2026).
Langkah teknis ini menjadi kunci agar helikopter dapat mendarat dengan aman di dekat fasilitas kesehatan, sehingga proses evakuasi pasien atau kedatangan dokter berjalan cepat dan efisien.
Skema Anggaran Masih Didalami, yang Jelas Komitmen Kuat
Terkait pendanaan, Herman menyatakan bahwa skema anggaran untuk sewa helikopter masih terus dikaji. Apakah akan menggunakan mekanisme pergeseran anggaran atau dimasukkan dalam Anggaran Perubahan (APBD-P) , semua akan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Yang terpenting, Herman menegaskan bahwa komitmen Gubernur untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan di Jawa Barat sangat kuat. Ide penyediaan helikopter ini adalah bukti nyata dari komitmen tersebut.
“Ini kan baru seminggu yang lalu ya, Pak Gubernur memberikan arahan dan ini luar biasa. Yang jelas komitmen Pak Gubernur untuk meningkatkan kualitas kesehatan sangat kuat, sampai muncul gagasan untuk rumah sakit yang jauh, kita akan bantu fasilitasi helikopter melalui sewa,” jelasnya.
Anggaran Rp49 Miliar untuk Pembangunan RSUD Jampang Kulon
Dalam kesempatan yang sama, Dedi juga memastikan bahwa pembangunan fisik RSUD Jampang Kulon akan segera dimulai tahun ini. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengalokasikan dana sebesar Rp49 miliar untuk menambah ruang rawat inap dan fasilitas pendukung.
“Dana Rp49 miliar itu untuk tambah ruang, tahun ini ada pembangunannya, ” kata Dedi.
Dengan tambahan ruang dan fasilitas yang memadai, diharapkan RSUD Jampang Kulon dan rumah sakit daerah lainnya dapat memberikan pelayanan optimal, sekaligus menjadi daya tarik bagi para dokter spesialis untuk bertugas di wilayah terpencil.
Rencana penyewaan helikopter selama setahun ini adalah sebuah lompatan besar dalam sejarah layanan kesehatan di Jawa Barat. Jika terealisasi, tidak ada lagi alasan bagi pasien di pelosok untuk meningggal dunia karena terlambat mendapat pertolongan. Tidak ada lagi alasan bagi dokter spesialis untuk menolak bertugas di daerah terpencil karena akses yang sulit.
Dengan kombinasi infrastruktur (helipad), sarana transportasi (helikopter sewa), dan peningkatan fasilitas RSUD (anggaran Rp49 miliar), Jawa Barat sedang membangun sistem layanan kesehatan yang berkeadilan—di mana lokasi geografis tidak lagi menjadi penghalang untuk mendapatkan hak hidup. (**)











