Baca Juga : Selat Hormuz Tersendat, Harga Minyak Siap Melejit: Pasar Bersiap Hadapi Efek Domino Perang
Di sisi kebijakan, situasi ini menempatkan Federal Reserve dalam posisi dilematis. Inflasi yang kembali menguat mendorong suku bunga bertahan tinggi. Namun di saat yang sama, perlambatan ekonomi dan potensi pelemahan pasar tenaga kerja membuka ruang bagi pelonggaran moneter. Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyatakan bank sentral perlu mencermati seberapa lama dampak konflik akan bertahan sebelum mengambil langkah lanjutan.
Konflik ini juga menjadi ujian politik bagi Presiden Donald Trump. Harga energi yang melonjak berpotensi memengaruhi sentimen publik menjelang pemilihan. Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, mengingatkan bahwa keterjangkauan harga merupakan isu utama bagi banyak rumah tangga. Kenaikan harga bensin dapat menekan kepercayaan konsumen dan pada akhirnya tercermin di bilik suara.
Jika konflik berlangsung lebih lama dari beberapa pekan, tekanan terhadap ekonomi AS diperkirakan semakin nyata. Biaya energi yang tinggi dapat memperlambat pertumbuhan dan menambah beban inflasi yang sebelumnya mulai terkendali.
Perang mungkin terjadi ribuan kilometer dari Washington. Namun di era pasar global yang saling terhubung, dampaknya bisa terasa langsung di pompa bensin sudut kota. Di tengah manuver militer dan diplomasi, yang kini diuji bukan hanya stabilitas kawasan, tetapi juga ketahanan dompet warga Amerika.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












