LOCUSONLINE, GARUT – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi telah berbicara langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait eskalasi konflik dengan Iran. Dalam komunikasi tersebut, keduanya sepakat, setidaknya secara retoris, bahwa hasil operasi militer bisa “diolah” menjadi kesepakatan politik yang menguntungkan.
Netanyahu menyebut keberhasilan militer gabungan AS-Israel sebagai “modal diplomasi” untuk mencapai tujuan perang. Dengan kata lain, peluru dan perundingan kini berjalan beriringan, seolah konflik adalah negosiasi yang dilakukan dengan efek suara ledakan.
“Presiden Trump melihat peluang untuk memanfaatkan pencapaian militer luar biasa menjadi sebuah kesepakatan yang melindungi kepentingan vital kami,” ujar Netanyahu dalam pernyataan video, Selasa (24/3/2026).
Namun, di balik narasi damai tersebut, Netanyahu menegaskan satu hal yang lebih konkret: serangan tetap berlanjut.
Alih-alih jeda, Israel justru memastikan operasi militer terus berjalan, baik di Iran maupun di Lebanon. Pernyataan ini mempertegas bahwa “kesepakatan” yang dibicarakan bukanlah penghentian konflik, melainkan kemungkinan pengemasan ulang hasil perang menjadi keuntungan strategis.
“Kami akan terus menyerang di Iran dan Lebanon,” kata Netanyahu, menegaskan garis kebijakan yang tidak mengenal kata pause.
Ia juga mengklaim serangan tersebut telah memberikan dampak signifikan terhadap program rudal dan nuklir Iran, serta melemahkan kelompok Hizbullah. Bahkan, Netanyahu menyebut dua ilmuwan nuklir Iran telah “dilenyapkan” dalam operasi terbaru dengan nada yang lebih menyerupai laporan pencapaian daripada tragedi kemanusiaan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










