Akibatnya, harga minyak sempat melonjak sebelum akhirnya turun drastis usai “pengumuman damai” versi Trump. Pasar tampaknya lebih percaya pada kata-kata daripada misil,setidaknya untuk sementara.
Baca Juga : Minyak Seret, Trump Kelabakan Ancam Hajar Iran Saat Selat Hormuz Disumbat
Sistem Pertahanan Bolong, Diplomasi Ikut Bocor
Di sisi lain, Israel menghadapi tekanan setelah sistem pertahanan seperti David’s Sling dilaporkan gagal mencegat rudal Iran. Insiden ini menambah daftar panjang ironi dalam konflik yang sudah penuh paradoks.
Dunia Ikut Nimbrung, Dari Inggris hingga Pakistan
Negara-negara lain mulai angkat suara. Inggris memanggil duta besar Iran, sementara Pakistan mencoba mengambil posisi sebagai penengah. Di saat yang sama, pengiriman sistem pertahanan udara ke kawasan Teluk menjadi bukti bahwa dunia belum benar-benar percaya pada “happy ending” ala Trump.
Palang Merah: Ini Bukan Film, Ini Nyata
Komite Internasional Palang Merah memperingatkan konflik ini berisiko mencapai titik tanpa kembali, terutama jika infrastruktur vital terus menjadi target.
“Kerusakan ini bisa permanen, bukan sekadar headline sementara,” demikian peringatan lembaga kemanusiaan tersebut.
Kesimpulan: Antara Diplomasi dan Drama
Konflik ini kini seperti dua jalur paralel: satu penuh ledakan, satu lagi penuh pernyataan damai. Masalahnya, keduanya berjalan bersamaan.
Jika versi Trump adalah naskah damai, maka versi Iran tampaknya belum menerima undangan reading. Dunia pun kini menonton dengan satu pertanyaan besar. Apa ini benar negosiasi, atau sekadar episode baru dari serial geopolitik paling mahal di dunia?*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”












