Desa Eshtaol sendiri bukan nama baru dalam daftar korban. Di awal konflik, sembilan orang, termasuk empat anak-anak, tewas akibat serangan serupa. Kini, sejarah seperti diputar ulang dengan pemeran yang berbeda, tapi skenario yang sama.
Konflik di kawasan Timur Tengah ini telah memasuki bulan kedua sejak pecah pada 28 Februari 2026, dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Sejak itu, Iran merespons dengan rudal dan drone semacam “balasan diplomatik” versi militer yang kini menjangkau berbagai titik di kawasan.
Bahkan, beberapa hari sebelumnya, Iran menunjukkan bahwa gudang persenjataannya masih jauh dari kata kosong dengan meluncurkan 15 rudal balistik dan 11 drone ke Uni Emirat Arab. Tak cukup sampai di situ, mereka juga memperkenalkan “fitur baru” rudal jarak jauh yang menyasar pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia.
Seorang pejabat senior AS, yang tampaknya mulai lelah menebak-nebak, mengakui bahwa sulit memperkirakan jumlah pasti rudal Iran, terutama karena sebagian besar diduga tersembunyi di bunker bawah tanah. Dengan kata lain, ini bukan sekadar perang terbuka, tapi juga permainan petak umpet berskala global.
Di tengah semua itu, warga sipil kembali menjadi pengingat paling nyata bahwa dalam konflik modern, garis depan bisa berada tepat di ruang tamu rumah sendiri.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










