Baca Juga : Selat Hormuz Buka Tutup Ala Iran: Lewat Boleh, Asal Bukan Kapal Musuh
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan fokus utama tetap pada keselamatan awak dan keamanan kapal. Ia bahkan meminta doa dari masyarakat, sebuah langkah yang mungkin terdengar sederhana, tapi mencerminkan betapa kompleksnya situasi yang dihadapi.
Di tengah ketidakpastian ini, pemerintah juga mulai memainkan strategi cadangan: diversifikasi sumber energi. Instruksi dari Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong perluasan sumber impor minyak, agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada kawasan yang sedang “panas”.
Data menunjukkan, sepanjang 2025 Indonesia mengimpor lebih dari 135 juta barel minyak mentah, dengan sekitar 19 persen berasal dari Arab Saudi. Sisanya datang dari berbagai penjuru dunia, mulai dari Afrika hingga Amerika, sebuah portofolio yang kini terasa semakin penting di tengah ketidakpastian global.
Di atas kertas, ini adalah soal logistik energi. Namun di lapangan, ini adalah soal negosiasi, keamanan, dan strategi bertahan.
Karena di era sekarang, bahkan untuk sekadar melintasi laut, sebuah negara tidak hanya butuh kapal tetapi juga restu dari situasi dunia yang tak pernah benar-benar tenang.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










