[Locusonline.co] Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak menguat pada perdagangan Selasa (31/3/2026), setelah sehari sebelumnya ditutup melemah tipis. Para analis memproyeksikan IHSG akan berada di kisaran level 7.000 hingga 7.200 pada pembukaan perdagangan.
Pada Senin (30/3), IHSG ditutup melemah 5,39 poin atau 0,077 persen ke level 7.091,67. Meski melemah, tekanan yang terjadi relatif terbatas, membuka peluang bagi penguatan pada sesi perdagangan berikutnya.
Analisis Teknikal: MACD Cenderung Sideways
Menurut analis Phintraco Sekuritas, secara teknikal pembentukan histogram Moving Average Convergence Divergence (MACD) pada Selasa (31/3) cenderung sideways, sehingga IHSG diperkirakan bergerak dalam kisaran level 7.000–7.200.
“Secara teknikal pembentukan histogram MACD pada Selasa (31/3) cenderung sideways sehingga IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran level 7.000-7.200,” kata analis Phintraco Sekuritas dalam keterangannya, Selasa (31/3).
Sentimen Penguatan: WFH dan Efisiensi Anggaran
Proyeksi penguatan IHSG didorong oleh sejumlah sentimen positif dari kebijakan pemerintah. Phintraco menilai bahwa langkah pemerintah yang sedang merancang skema efisiensi anggaran hingga kebijakan Work From Home (WFH) menjadi katalis yang dapat mendorong pasar.
“Pemerintah mengidentifikasi ada tiga sektor yang rentan terdampak, yaitu stabilitas energi, rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” kata analis Phintraco.
Kebijakan WFH dan efisiensi anggaran dinilai sebagai langkah mitigasi yang tepat untuk meminimalisir dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap APBN dan ekonomi domestik. Langkah ini memberikan sinyal positif bagi investor bahwa pemerintah responsif terhadap tantangan eksternal.
BBM Nonsubsidi Berpotensi Naik 1 April

Analis juga menyoroti potensi kenaikan harga BBM nonsubsidi yang akan diumumkan pada 1 April 2026. Kenaikan ini diperkirakan akan menjadi perhatian pasar, terutama karena akan berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat.
Meski demikian, investor tampaknya telah mengantisipasi kebijakan ini, sehingga dampaknya terhadap IHSG diperkirakan terbatas.
Dua Sentimen yang Masih Mengganjal
Di sisi lain, Phintraco mencatat dua sentimen yang masih menekan IHSG ke level 7.000:Sentimen Keterangan Bea keluar ekspor batu bara Pemerintah belum memberikan kepastian, meski sudah masuk dalam asumsi penerimaan APBN 2026 Bea keluar produk turunan nikel Sudah mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo
Ketidakpastian terkait kebijakan bea keluar ekspor batu bara masih menjadi faktor yang membayangi pasar, terutama bagi investor di sektor energi dan tambang.
Rekomendasi Saham
Phintraco Sekuritas
Merekomendasikan saham-saham yang dapat dicermati pada Selasa (31/3):Kode Saham Emiten BUMI PT Bumi Resources Tbk DEWA PT Darma Henwa Tbk MAPI PT Mitra Adiperkasa Tbk MBMA PT Merdeka Battery Materials Tbk SMDR PT Samudera Indonesia Tbk
MNC Sekuritas: Proyeksi Variatif dengan Dua Skenario
Sementara itu, MNC Sekuritas memberikan proyeksi yang lebih variatif. Menurut analisnya, IHSG pada Selasa (31/3) masih rawan terkoreksi, namun juga berpotensi menguat jika pola gelombang telah selesai.Skenario Level Koreksi 6.745 – 6.887 Penguatan (best case) 7.450 – 7.779
“IHSG masih rawan terkoreksi ke area 6.745-6.887. Best case IHSG sudah menyelesaikan wave A pada label biru, sehingga akan melanjutkan penguatan ke 7.450-7.779,” tulis MNC Sekuritas.
Rekomendasi Saham MNC Sekuritas:
| Kode Saham | Emiten |
|---|---|
| AGII | PT Aneka Gas Industri Tbk |
| ESSA | PT Surya Esa Perkasa Tbk |
| PTBA | PT Bukit Asam Tbk |
| TLKM | PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk |
Prospek ke Depan
Pergerakan IHSG dalam beberapa hari ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah terkait efisiensi energi, kepastian bea keluar batu bara, serta dinamika harga minyak global. Investor disarankan untuk tetap selektif dalam memilih saham, terutama yang memiliki fundamental kuat dan tidak terlalu sensitif terhadap fluktuasi harga komoditas.
Dengan adanya potensi kenaikan BBM nonsubsidi dan kebijakan WFH yang terus dikaji, sektor-sektor seperti energi, konsumer, dan infrastruktur menjadi perhatian utama pelaku pasar. (**)














