“Kalau dulu pesugihan, sekarang pinjol. Esensinya sama,” sindir Iwet.
Dari sisi industri, pilihan genre horor juga bukan tanpa perhitungan. Data pasar menunjukkan bahwa film horor masih menjadi primadona di Indonesia. Artinya, pesan sosial lebih mudah “diselundupkan” melalui jalur yang sudah pasti ramai penonton.
Rollink Action sendiri mengklaim ingin mendorong pertumbuhan industri kreatif dengan memberi ruang bagi aktor dan kreator lokal untuk berkembang. Meski demikian, publik mungkin akan bertanya: apakah ruang itu benar-benar untuk berkarya, atau sekadar memperbanyak stok jeritan di bioskop?
Film ini disebut terinspirasi dari kisah nyata atau lebih tepatnya, realitas kolektif masyarakat. Bukan satu orang, tapi banyak orang yang mengalami tekanan serupa.
“Kisah nyata ini milik banyak orang,” ujar Iwet.
Meski mengangkat isu berat, film tetap dikemas sebagai hiburan. Pesan sosial disisipkan secara halus agar tidak terasa menggurui sebuah tantangan klasik dalam perfilman, bagaimana membuat penonton berpikir tanpa merasa sedang diajari.
Pada akhirnya, Aku Harus Mati tampaknya ingin menyampaikan satu hal sederhana namun menohok: di era sekarang, yang paling menakutkan bukan lagi suara pintu berderit di malam hari, melainkan notifikasi tagihan yang datang tanpa ampun.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”











