Sikap ini mencerminkan realitas baru yang fleksibilitas bukan lagi pilihan strategis, melainkan kebutuhan mendesak.
“Yang penting bagi pemerintah adalah memastikan BBM tetap ada,” tegasnya.
Di tengah kondisi ini, prioritas pemerintah memang jelas: menjaga pasokan bahan bakar dalam negeri. Namun di sisi lain, publik bisa melihat gambaran yang lebih besar ketergantungan pada pasar global yang tidak selalu bisa diprediksi.
Ketika jalur seperti Selat Hormuz terganggu, efek domino langsung terasa hingga ke negara-negara importir seperti Indonesia.
Dan di titik itu, idealisme soal “memilih mitra strategis” mendadak kalah oleh satu hal yang lebih mendesak: ketersediaan.
Pernyataan Bahlil secara tidak langsung menegaskan bahwa pasar energi dunia sedang tidak baik-baik saja. Negara-negara kini bukan hanya berdagang, tapi juga bersaing secara agresif demi mengamankan pasokan.
Dalam situasi seperti ini, strategi energi nasional pun ikut berubah dari yang semula terencana menjadi adaptif, bahkan reaktif.
Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan cukup jelas, meski terdengar pahit: di tengah krisis global, yang penting bukan lagi dari mana minyak berasal tetapi apakah masih ada yang bisa dibeli.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










