Tak hanya itu, pemerintah juga berharap tambahan pemasukan dari sektor lain, seperti ekspor komoditas batu bara, bisa membantu menutup tekanan fiskal.
Di satu sisi, kabar ini tentu menjadi angin segar bagi masyarakat yang sudah terbiasa waswas setiap kali harga minyak dunia naik. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan klasik, sampai kapan APBN bisa terus menjadi tameng?
Sebab menjaga harga tetap murah di tengah pasar global yang mahal ibarat menahan air laut dengan bendungan, bisa dilakukan tapi butuh kekuatan ekstra dan perhitungan matang.
Meski begitu, pemerintah tetap optimistis. Semua skenario, kata Purbaya, sudah dihitung dengan cermat. Dari harga minyak US$80 hingga US$100 per barel, semuanya telah masuk dalam simulasi fiskal.
Pesan utamanya sederhana: masyarakat diminta tidak panik.
Namun seperti biasa, di negeri ini, antara “sudah dihitung” dan “apa yang akan terjadi” sering kali hanya dipisahkan oleh satu hal kecil yaitu realita.*****

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










