[Locusonline.co] Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (10/4/2026) ditutup melemah tipis di tengah sikap hati-hati (wait and see) pelaku pasar menjelang rilis data inflasi utama Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda tergelincir 14 poin atau 0,08 persen ke level Rp17.104 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, menjelaskan bahwa meskipun sempat menguat di awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi pergerakan rupiah.
“Meskipun sempat terapresiasi ke level Rp17.083 pada awal sesi, tekanan eksternal masih mendominasi, terutama akibat penguatan dolar AS menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Sementara itu, kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga ikut tertekan, melemah dari Rp17.082 menjadi Rp17.112 per dolar AS.
Dua Sentimen Utama yang Menekan Rupiah
Amru mengidentifikasi setidaknya dua sentimen utama yang menyebabkan dolar AS menguat dan menekan nilai tukar rupiah:
1. Ekspektasi Kebijakan Moneter AS yang Lebih Ketat
Pasar saat ini sedang menantikan rilis data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan dirilis malam ini. Para ekonom memperkirakan data inflasi tersebut akan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Jika prediksi ini terbukti, maka akan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneternya.
Suku bunga tinggi yang berkepanjangan di AS membuat dolar menjadi aset yang lebih menarik bagi investor global, sehingga modal asing cenderung keluar dari negara berkembang seperti Indonesia.
2. Ketegangan Geopolitik Timur Tengah
Konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah turut menambah sentimen negatif. Eskalasi ketegangan dan potensi gangguan distribusi energi global mendorong investor untuk berlindung ke aset-aset aman (safe haven), terutama dolar AS dan emas.
“Ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta potensi gangguan distribusi energi global turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, yang turut memberikan tekanan pada rupiah,” jelas Amru.
Sentimen Domestik: BI Hadir dengan Intervensi
Meskipun berada di bawah tekanan, pelemahan rupiah relatif terjaga dan tidak mengalami gejolak ekstrem. Hal ini tidak lepas dari intervensi aktif Bank Indonesia (BI) di pasar. BI disebut sebagai penopang utama stabilitas rupiah di tengah badai eksternal.
Amru menjelaskan bahwa BI mengoptimalkan berbagai instrumen untuk menstabilkan nilai tukar:
- Intervensi di pasar spot (jual beli valas langsung)
- Intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) domestik untuk mengelola ekspektasi
- Kesiapan membeli obligasi pemerintah (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga imbal hasil
“Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti menegaskan stabilisasi rupiah menjadi prioritas, dengan langkah intervensi di pasar spot dan NDF, serta kesiapan membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder,” kata Amru.
Selain itu, Gubernur BI Perry Warjiyo juga telah menyampaikan komitmen serupa di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bank sentral berjanji akan secara konsisten menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar domestik dan offshore.Sentimen Dampak pada Rupiah Ekspektasi Inflasi AS Tinggi Dolar menguat (Tekanan Rupiah) Konflik Timur Tengah Lonjakan Safe Haven (Tekanan Rupiah) Intervensi Aktif BI Stabilitas Terjaga (Menahan Pelemahan)
Pelemahan rupiah yang terjadi hari ini bersifat teknis dan terbatas, didorong oleh sentimen global yang kuat. Investor memilih bersikap wait and see menjelang data inflasi AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan The Fed. Jika inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan, dolar berpotensi menguat lebih lanjut.
Namun, kabar baiknya, Bank Indonesia tetap sigap. Intervensi yang dilakukan oleh BI menjadi “tameng” yang efektif untuk memastikan rupiah tidak mengalami depresiasi yang terlalu tajam, sehingga stabilitas makroekonomi domestik tetap terjaga. (**)










![BSI Bidik 10 Juta Pengguna Mobile Banking 2026, BYOND Jadi Mesin Pertumbuhan Utama locusonline featured image Mar 2026 [foto antara/BSI]](https://locusonline.co/wp-content/uploads/2026/03/BSI-Bidik-10-Juta-Pengguna-Mobile-Banking-2026-BYOND-Jadi-Mesin-Pertumbuhan-Utama_locusonline_featured-image_Mar-2026_3-600x490.jpg)



