“Bupati ingin rakyat mandiri, Rakyat ingin pejabat sadar, bantuan sementara itu wajar tapi hidup susah yang berkepanjangan itu tidak.”
LOCUSONLINE, GARUT – Rapat koordinasi penyaluran bantuan pangan yang digelar daring di Command Center Garut, Jumat (21/11/2025), berlangsung penuh pesan moral dari Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin. Intinya: bantuan tak selamanya, jangan manja, nanti mandiri juga.
Ucapan yang terdengar sangat bijak kalau diucapkan di kota yang warganya tidak sedang sibuk menghitung sisa beras di kaleng biskuit bekas kue lebaran.
“Bantuan ini sifatnya sementara, darurat. Jangan berpikir akan dapat terus,” tegas Syakur, dengan tone yang biasanya dipakai guru BK ketika menasihati anak yang ketahuan nyontek.
Warga yang mendengar hanya bisa angguk-angguk. Bukan karena paham, tapi karena kalau geleng-geleng nanti pusing, sementara belum makan.
KUR: Jembatan ke Kemandirian atau Ke Jebakan Bunga?
Bupati mencontohkan KUR sebagai bukti pemerintah ingin rakyat mandiri, Rakyat tentu paham KUR itu membantu, sepanjang usaha lancar, masalahnya, banyak yang usahanya baru rencana tapi biaya hidup sudah realitas, makanya ketika Bupati bilang “bantuan tak selamanya”, warga spontan ingin menjawab, “Betul Pak, tapi cicilan selamanya ada.”
Pengawasan Bantuan: Timbangan Harus Akurat, Nasib Rakyat Bebas Mengambang
Syakur menekankan agar para lurah dan kades menolak bantuan yang timbangannya tidak sesuai.
Instruksi keren, rapi, tegas.
Tapi di lapangan, warga justru sering menghadapi hal-hal yang lebih berat dari beras yang kurang kilo:
– bantuan datang terlambat,
– penerima bantuan tiba-tiba berubah,
– dan selalu ada “oknum yang kenal perangkat desa” yang dapat duluan.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”










