Bandung

Kampus Turun Gunung! Mendiktisaintek Siapkan Mahasiswa dan Teknologi untuk Atasi Krisis Sampah Bandung

rakyatdemokrasi
×

Kampus Turun Gunung! Mendiktisaintek Siapkan Mahasiswa dan Teknologi untuk Atasi Krisis Sampah Bandung

Sebarkan artikel ini
Kampus Turun Gunung! Mendiktisaintek Siapkan Mahasiswa dan Teknologi untuk Atasi Krisis Sampah Bandung locusonline featured image Feb 2026 a
ucapan selamat Hari Jadi Garut ke 213

[Locusonline.co] Krisis sampah di Kota Bandung kini memasuki babak baru. Bukan hanya pemerintah daerah yang bergerak, tetapi juga perguruan tinggi dan ribuan mahasiswa siap turun langsung ke lapangan.

Komitmen itu disampaikan langsung oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, saat berkunjung ke Balai Kota Bandung, Rabu, 25 Februari 2026. Dalam pertemuan tersebut, ia menegaskan kesiapan kampus untuk menjadi bagian dari solusi nyata—bukan sekadar pengamat—dalam mengatasi persoalan sampah yang semakin kompleks.

tempat.co

Menurutnya, Bandung memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak kota lain: jejaring perguruan tinggi besar, sumber daya akademik yang kuat, dan populasi mahasiswa yang melimpah. Kombinasi ini dinilai sebagai kekuatan strategis untuk membangun sistem pengelolaan sampah berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan rekayasa sosial.

“Kampus akan memetakan kebutuhan komposting, maggotisasi, biodigester, RDF, sampai rantai pasoknya. Setelah itu kita usulkan ke pemerintah pusat, sehingga tidak membebani APBD,” ujar Brian.

Mahasiswa Akan Turun Langsung Lewat KKN Tematik

Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah penerjunan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik. Namun, kali ini peran mahasiswa tidak hanya sebatas kegiatan sosial simbolis.

Mahasiswa akan dilibatkan dalam berbagai aspek strategis, mulai dari:

  • Edukasi pemilahan sampah di masyarakat
  • Pendampingan teknologi pengolahan sampah organik
  • Kajian model bisnis pengelolaan sampah
  • Pemetaan infrastruktur pengolahan sampah
  • Pendampingan UMKM dan sektor horeka (hotel, restoran, kafe)

Pendekatan ini dinilai jauh lebih efisien dibandingkan pembangunan fasilitas waste-to-energy berskala besar yang membutuhkan investasi hingga Rp2–3 triliun per unit.

Brian menilai, solusi berbasis kampus lebih cepat, murah, dan berkelanjutan karena bertumpu pada perubahan perilaku masyarakat dan inovasi teknologi tepat guna.

“Kalau model ini berhasil di Bandung, tahun depan bisa diterapkan di seluruh kota di Indonesia,” katanya.

Dengan kata lain, Bandung bukan hanya menyelesaikan masalahnya sendiri, tetapi berpotensi menjadi model nasional.

Bandung Produksi 1.507 Ton Sampah per Hari

Di sisi lain, Muhammad Farhan, Wali Kota Bandung, memaparkan fakta yang menunjukkan betapa mendesaknya persoalan ini.

Setiap hari, Kota Bandung menghasilkan 1.507,85 ton sampah. Sekitar 60 persen berasal dari rumah tangga, dengan dominasi sisa makanan dan daun.

Namun yang lebih mengkhawatirkan, hanya sekitar 21,63 persen sampah yang benar-benar terkelola dengan baik—dipilah, diolah, atau dimanfaatkan kembali. Sisanya berakhir di tempat pembuangan akhir atau bahkan tercecer di lingkungan.

Farhan menegaskan, akar persoalan bukan semata-mata pada teknologi, tetapi pada pola pikir masyarakat.

“Mindset yang harus kita ubah adalah ‘saya sudah bayar, sampah harus hilang’. Itu keliru. Sampah bukan soal hilang, tapi harus dikelola,” ujarnya.

Ia juga menyoroti praktik pembuangan sampah ilegal, termasuk keterlibatan oknum dalam rantai pengangkutan tidak resmi, yang memperburuk kondisi lingkungan kota.

Gaslah: Pasukan Baru dari Tingkat RW

Sebagai bagian dari solusi hulu, Pemerintah Kota Bandung telah meluncurkan program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah).

Sebanyak 1.597 petugas Gaslah telah direkrut—masing-masing satu orang untuk setiap RW di Kota Bandung.

Tugas mereka bukan sekadar mengangkut sampah, tetapi juga menjadi agen perubahan di masyarakat:

  • Mengedukasi warga tentang pemilahan sampah
  • Mengumpulkan sampah organik langsung dari rumah
  • Mendukung pengolahan sampah berbasis komunitas

Setiap petugas ditargetkan mengumpulkan minimal 25 kilogram sampah organik per hari.

Program ini didukung anggaran sekitar Rp24 miliar per tahun dan dipantau melalui dashboard digital real-time yang juga menjadi indikator kinerja camat dan lurah.

“Tanpa rekayasa sosial dan enforcement, tidak akan selesai. Hulu harus beres dulu,” tegas Farhan.

Ekosistem Sirkular: Dari Sampah Jadi Pangan

Bandung juga sedang membangun ekosistem ekonomi sirkular berbasis masyarakat melalui integrasi berbagai program, seperti:

  • Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan)
  • Buruan Sae (Urban farming)
  • Dapur Sehat Atasi Stunting

Dalam sistem ini, sampah organik diolah menjadi kompos atau maggot, kemudian digunakan untuk pertanian perkotaan. Hasil panen dimanfaatkan oleh masyarakat, dan sisa organiknya kembali dikelola.

“Inilah sirkular Bandung Utama. Kita bangun budaya, bukan hanya teknologi,” kata Farhan.

Bandung Jadi Panggung Percontohan Nasional

Pemerintah pusat telah menetapkan lima kota sebagai pilot project pengelolaan sampah berbasis kolaborasi kampus dan pemerintah daerah:

  • Kota Bandung
  • Kota Bogor
  • Kota Tangerang
  • Kota Purwokerto
  • Kota Yogyakarta

Namun, Bandung diproyeksikan menjadi model utama.

Program ini akan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, kampus, serta unsur TNI dan Polri untuk pengawasan dan penegakan hukum.

Insentif juga akan diberikan kepada pelaku usaha yang patuh dalam pengelolaan sampah, khususnya di sektor horeka dan pasar.

“Kita jadikan Bandung panggung percontohan nasional. Tahun ini kita keroyok bersama,” kata Brian.

Target Besar: Turunkan Produksi Sampah per Orang

Saat ini, setiap warga Bandung menghasilkan rata-rata 0,58 kilogram sampah per hari.

Targetnya jelas: menurunkannya menjadi di bawah 0,4 kilogram per orang per hari.

Target ini mungkin terdengar ambisius. Namun, dengan kolaborasi kampus, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat, optimisme mulai tumbuh.

Karena pada akhirnya, solusi sampah bukan hanya soal teknologi mahal atau fasilitas canggih.

Ia tentang kesadaran.
Tentang budaya.
Tentang perubahan bersama.

Dan kini, kampus telah turun gunung. (**)

Tinggalkan Balasan

banner-amdk-tirta-intan_3_1
previous arrow
next arrow