[Locusonline.co] CIMAHI – Dua dekade lebih berlalu, luka itu tak pernah benar-benar sembuh. Pemerintah Kota Cimahi akhirnya memastikan pembangunan Monumen Peringatan Tragedi Longsor Sampah TPA Leuwigajah yang merenggut 157 jiwa pada 21 Februari 2005 silam. Monumen ini bukan sekadar tugu batu, melainkan sebuah ruang renungan yang menggabungkan unsur sejarah, ekologi, dan kearifan lokal.
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengungkapkan bahwa desain monumen telah rampung dipilih melalui sayembara pada akhir tahun 2025. Kini, tinggal menunggu kepastian anggaran untuk merealisasikannya.
“Untuk tragedi longsor sampah tahun kemarin sudah ada gambarnya, tinggal penganggaran dan kapan kita akan mulai untuk memperingati para korban yang tertimbun tanah longsor,” ujar Ngatiyana, Jumat (27/2/2026).
Desain Simbolis: Kujang 9 Meter dan Dinding Kaca Berisi Nama Korban
Monumen ini dirancang tidak hanya indah, tetapi sarat makna. Bentuknya meruncing setinggi 9 meter menyerupai kujang, senjata tradisional Sunda, yang menjadi simbol keteguhan dan semangat bangkit masyarakat pascabencana.
Bagian utama monumen berupa dinding kaca transparan yang kuat dan tahan lama. Di dinding itulah akan digrafir dengan jelas nama-nama 157 korban yang tertimbun longsor sampah, serta visi dan misi daerah sebagai pengingat generasi mendatang.
Sampah Jadi Elemen Monumen: Plastik MLP dan Botol Kaca
Yang paling menarik, monumen ini akan memanfaatkan sampah sebagai elemen utama. Konsep ini dipilih untuk membangun kesadaran kolektif akan bencana ekologis yang dipicu oleh kelalaian mengelola sampah.
- Sampah plastik multilayer (MLP) yang memiliki nilai ekonomi rendah akan dijadikan bagian dari struktur monumen. Plastik jenis ini terurai sangat lama, hingga puluhan tahun, sehingga menjadi pengingat abadi akan bahaya sampah.
- Susunan botol kaca akan dibentuk menyerupai berbagai motif dan pola khas daerah, menambah nilai estetika sekaligus pesan daur ulang.
Menurut Ngatiyana, monumen ini dirancang sebagai “ruang transformasi kesadaran.” Dari sekadar mengenang tragedi, pengunjung diharapkan pulang dengan komitmen baru terhadap tanggung jawab ekologis.
Terintegrasi dengan Kampung Adat Cireundeu: Lebih dari Sekadar Monumen
Monumen ini tidak berdiri sendiri. Ia akan menjadi satu kesatuan kawasan dengan Kampung Adat Cireundeu, sebuah perkampungan adat Sunda yang masih memegang teguh tradisi. Integrasi ini dirancang untuk menciptakan:Fungsi Deskripsi Ruang Pembelajaran Budaya Pengunjung bisa belajar tentang kearifan lokal dan adat Sunda Penghubung Kawasan Jalur yang menghubungkan monumen dengan Kampung Adat Pengembangan UMKM Sentra ekonomi berbasis kearifan lokal untuk warga sekitar Plaza Edukasi Papan informasi tentang desa adat, kebudayaan, dan sejarah longsor Amfiteater & Plaza Ruang publik untuk berkumpul dan refleksi
“Kita abadikan agar Kampung Adat Cireundeu juga mengingat saudara-saudaranya yang menjadi korban. Mudah-mudahan tahun ini ada anggarannya, kalau tidak ada tahun depan,” harap Ngatiyana.
Sayembara Desain Libatkan Juri Independen dan Tokoh Adat
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, menjelaskan bahwa desain monumen ini merupakan hasil sayembara yang melibatkan juri independen dan tokoh Kampung Adat Cireundeu. Proses penilaian berlangsung transparan dan partisipatif.
“Jadi desain monumen itu hasil sayembara yang kita laksanakan. Jadi memang menggunakan barang bekas dan lain sebagainya,” katanya.
Saat ini, pihaknya masih menunggu hasil akhir dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Cimahi terkait kesiapan anggaran. Kebutuhan lahan untuk pembangunan monumen diperkirakan mencapai 1 hektare.
“Kurang lebih membutuhkan lahan di 1 hektare. Jadi itu kawasan lengkap, ada amfiteater, UMKM. Jadi bentuknya tidak hanya monumen saja,” terang Chanifah.
Menghormati yang Telah Pergi, Mengingatkan yang Masih Hidup
Dua puluh satu tahun lalu, longsor sampah di Leuwigajah menjadi tragedi kemanusiaan dan lingkungan terburuk di Indonesia. Ratusan jiwa melayang, dan peristiwa itu menjadi titik balik kesadaran pengelolaan sampah di berbagai daerah.
Monumen peringatan ini diharapkan menjadi pengingat abadi bahwa sampah bukan sekadar benda buangan, tetapi bisa menjadi pembunuh jika dikelola secara salah. Lebih dari itu, monumen ini adalah penghormatan bagi 157 jiwa yang tak sempat selamat, dan sebuah ikrar bahwa tragedi serupa tak boleh terulang lagi. (**)











