Ermanto Usman bukan korban perampokan biasa. Ia adalah aktivis pelabuhan yang konsisten membongkar kasus dugaan korupsi JICT dan Pelindo hingga triliunan rupiah. Rekan seperjuangan, Rieke Diah Pitaloka, ungkap fakta mengejutkan: korban sempat minta maaf ke keluarga sebulan sebelum tewas.
[Locusonline.co] BEKASI – Sosok Ermanto Usman (65) yang tewas secara tragis di rumahnya kawasan Jatibening, Bekasi, pada Senin (2/3/2026), perlahan namun pasti mulai terungkap. Ia bukan sekadar pensiunan biasa. Di balik kesehariannya sebagai warga Perumahan Prima Lingkar Asri, tersimpan jejak panjang perjuangan melawan korupsi di sektor pelabuhan nasional.
Ermanto adalah pensiunan karyawan PT Jakarta International Container Terminal (JICT) , anak perusahaan Pelindo. Namun, jauh setelah masa purnabakti, semangat juangnya tak pernah padam. Ia tetap vokal mengawal kasus-kasus dugaan korupsi yang merugikan negara hingga triliunan rupiah.
Aktivis Pelabuhan yang Konsisten Bongkar Korupsi
Anggota DPR RI Komisi XIII sekaligus Ketua Umum Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI), Rieke Diah Pitaloka, mengungkapkan bahwa Ermanto adalah salah satu sosok kunci dalam perjuangan membongkar dugaan korupsi besar di sektor pelabuhan beberapa tahun lalu.
“Pak Ermanto ini adalah dulu karyawan JICT yang sempat di-PHK, begitu, dalam kaitan kasus dugaan korupsi yang melibatkan RJ Lino. Dan kemudian dibentuklah Pansus di DPR, kebetulan saya sebagai Ketua Pansus Pelindo-nya dengan kerugian negara mencapai triliunan rupiah,” ujar Rieke di rumah duka, Rabu (4/3/2026).
Bahkan jika menggunakan penilaian future values, Rieke menyebut kerugian negara bisa mencapai puluhan triliun rupiah.
Semasa hidupnya, Ermanto aktif dalam Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI) di bawah naungan KRPI. Ia adalah rekan seperjuangan yang konsisten mengawal kasus kerugian negara di Pelindo.
Tidak Berhenti: Membongkar Kasus yang “Dipetieskan”
Meski sudah tidak lagi bekerja di JICT, dedikasi Ermanto terhadap pemberantasan korupsi tidak pernah luntur. Rieke mengungkapkan bahwa belakangan ini almarhum sedang berupaya membongkar kembali kasus-kasus lama yang dianggap sengaja dihentikan atau ‘dipetieskan’.
“Sampai terakhirnya saya yakin Pak Ermanto terus memperjuangkan agar dibukanya kasus yang terindikasi dipetieskan. Kasus korupsi di pelabuhan yang terindikasi dipetieskan,” tegas Rieke.
Sekitar satu bulan sebelum tutup usia, Ermanto diketahui sempat tampil di sebuah podcast untuk menyuarakan kembali isu korupsi global bond dan proyek Kalibaru yang merugikan negara.
Firasat Sebelum Meninggal: Minta Maaf ke Keluarga
Kepergian Ermanto menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi keluarga. Rieke membeberkan fakta mencengangkan: almarhum seolah sudah merasakan adanya ancaman. Sejak Februari lalu, ia disebut sering meminta maaf kepada keluarga.
“Ada chat yang cukup panjang bahwa bulan Februari kemarin ayahnya minta maaf tolong diikhlaskan apa segala. Bahwa ya ada indikasi-indikasi, saya nggak tahu ada indikasi-indikasi tapi yang jelas ayahnya pernah berpesan sama anak-anaknya ‘kalau ada apa-apa sama Bapak hubungi Bu Rieke’,” katanya.
Pesan terakhir ini kini menjadi petunjuk penting bahwa Ermanto mungkin menyadari risiko dari perjuangannya.
Bukan Perampokan Biasa: Kejanggalan di TKP
Rieke menyoroti fakta di TKP yang menguatkan dugaan bahwa ini bukan perampokan biasa. Tidak ada barang berharga milik korban yang hilang, termasuk perhiasan yang ada di kamar maupun yang sedang dikenakan istrinya.
Pelaku disebut hanya membawa:
- Telepon genggam (handphone)
- Dompet
- Dua kunci mobil korban
“Ini bukan perampokan karena tidak ada barang yang hilang kecuali kunci mobil, dompet, dan handphone. Jadi saya kira perlu ada kajian dan investigasi yang lebih luas, lebih tajam dari pihak kepolisian,” ucap Rieke.
Kondisi korban saat ditemukan pun disebut sangat tragis, dengan luka tusuk dan hantaman benda tumpul di kepala.
Tuntutan: Bukan Hanya Eksekutor, Tapi Otak Pembunuhan
Rieke mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini hingga ke akar-akarnya. Ia menegaskan bahwa pengusutan tidak boleh berhenti pada eksekutor lapangan.
“Kami berharap ada penegakan hukum segera diambil. Tentu saja bukan hanya eksekutor lapangan tapi otak di balik indikasi pembunuhan ini,” tegasnya.
Istri Kritis, Keluarga Minta Perlindungan LPSK
Saat ini, istri Ermanto, Pasmilawati (60) , masih dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Ia menjadi saksi kunci sekaligus korban selamat dari peristiwa sadis tersebut.
Rieke berencana meminta perlindungan resmi dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk keluarga almarhum. Langkah ini dianggap penting mengingat besarnya risiko dan kompleksitas kasus yang menjerat Ermanto.
Data dan Fakta Singkat
| Item | Keterangan |
|---|---|
| Nama korban | Ermanto Usman (65) |
| Pekerjaan | Pensiunan JICT, aktivis FPPI-KRPI |
| Lokasi kejadian | Perumahan Prima Lingkar Asri, Jatibening, Bekasi |
| Tanggal kejadian | Senin, 2 Maret 2026 |
| Kondisi istri | Pasmilawati (60) – kritis, dirawat di RS |
| Aktivitas terakhir | Vokal di podcast bongkar korupsi global bond & proyek Kalibaru |
| Kasus yang dibongkar | Dugaan korupsi JICT, Pelindo, RJ Lino (kerugian triliunan) |
| Firasat | Minta maaf ke keluarga sejak Februari 2026 |
| Barang hilang | HP, dompet, 2 kunci mobil (janggal: perhiasan utuh) |
| Tuntutan keluarga | Usut tuntas, cari otak pembunuhan |
| Rencana perlindungan | LPSK untuk keluarga korban |
Kepergian Ermanto Usman bukan sekadar kehilangan seorang ayah dan suami, tetapi juga kehilangan seorang pejuang antikorupsi yang tak kenal lelah. Di tengah duka yang mendalam, keluarga dan rekan seperjuangan menuntut keadilan. Bukan hanya untuk Ermanto, tetapi untuk seluruh pekerja Indonesia yang memperjuangkan kebenaran. (**)
Selamat jalan, Pak Ermanto. Perjuanganmu belum selesai. Kini, negara yang harus membuktikan keberpihakannya pada kebenaran.













