LOCUSonline, CIMAHI – Pendidikan menengah dan pendidikan khusus kembali menjadi panggung besar janji transformasi. Kali ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan komitmennya untuk menghadirkan sistem yang lebih inklusif, adaptif dan berkualitas, tiga istilah yang sudah akrab di telinga, meski implementasinya masih terus diuji di lapangan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyebut selama setahun terakhir pemerintah telah meletakkan fondasi melalui berbagai program prioritas, mulai dari revitalisasi satuan pendidikan hingga digitalisasi pembelajaran.
Program-program tersebut bahkan disebut telah menuai apresiasi. Namun, dalam nada yang cukup jujur, ia mengakui bahwa masyarakat masih menunggu dampak nyata dari kebijakan yang sudah diluncurkan.
“Masih banyak yang ditunggu masyarakat dari setiap dampak kebijakan,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi penyelarasan program prioritas pendidikan 2026.
Salah satu fokus utama pemerintah adalah menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta daerah marginal yang selama ini kerap menjadi “penonton” dalam pembangunan pendidikan.
Solusi yang ditawarkan adalah perluasan pendidikan jarak jauh, sebuah konsep yang terdengar modern, meski tantangan infrastruktur di daerah tersebut belum sepenuhnya selesai.
Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk melibatkan institusi keagamaan dalam pendidikan.
“Misalnya melibatkan gereja dan pastor sebagai relawan pendidikan untuk menjangkau daerah yang belum terlayani,” kata Abdul Mu’ti.

“Jangan tunggu mampu dulu untuk memberi, tidak usah sempat dulu untuk berbuat baik”









